Minggu, 12 April 2026

AI Tidak Bisa Ciptakan Inovasi dari Nol, Perlu Sentuhan Manusia

Sabtu, 24 Mei 2025 10:34 WIB
AI Tidak Bisa Ciptakan Inovasi dari Nol, Perlu Sentuhan Manusia
Seminar Artificial Intelligence (AI) bertema AI vs Human Values diadakan di Universitas Bunda Mulia, Serpong, pada Selasa (20/5/2025). (Dok/Diktisaintek)
Jakarta (buseronline.com) - Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak mampu menciptakan sesuatu dari nol dan harus tetap didampingi manusia dalam pengembangannya.

Hal ini ditegaskan oleh Plt Direktur Bina Talenta Penelitian dan Pengembangan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), Karlisa Priandana, dalam seminar bertema “Artificial Intelligence” yang digelar di Universitas Bunda Mulia (UBM), Serpong, Selasa.

“AI tidak akan pernah bisa membuat sesuatu dari nol. AI menghasilkan karya dengan mengolah data-data yang sudah ada. Berbeda dengan manusia yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan intuisi,” kata Karlisa di hadapan peserta seminar yang terdiri dari mahasiswa, akademisi, serta pelaku industri teknologi.

Karlisa hadir sebagai pembicara dalam panel diskusi bertajuk “AI, Ethics, and Society: Balancing Research and Innovation with Human Values”. Ia tampil bersama Direktur Data dan Artificial Intelligence Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Adhiguna Mahendra.

Dalam diskusi tersebut, Karlisa menggarisbawahi bahwa sepesat apa pun kemajuan AI, teknologi ini tetap belum mampu meniru tiga hal utama dari manusia: kreativitas, optimisme, dan hati nurani.

“Karena itu, AI hanyalah alat bantu. Untuk menjadi teknologi yang baik dan etis, AI harus terus dituntun oleh manusia,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pengembangan AI yang bertanggung jawab dan berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.

Menurut Karlisa, ada tujuh prinsip yang harus diperhatikan untuk memastikan AI berkembang secara etis dan adil, yakni: mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, memastikan keterlibatan manusia dalam proses (human-in-the-loop), memasukkan etika AI dalam kurikulum pendidikan, menjamin transparansi dan akuntabilitas, menciptakan regulasi yang adaptif dan inklusif, menjunjung keadilan sosial, serta mendorong kolaborasi multidisipliner.

Sementara itu, Adhiguna Mahendra dari OIKN menyampaikan bahwa pemanfaatan AI tidak hanya terbatas pada hal-hal populer seperti pembuatan gambar atau video, tetapi mencakup berbagai aspek yang lebih luas dan strategis.

“AI ini sebenarnya masih sangat underrated. Di IKN, kami tengah mengembangkan berbagai sistem cerdas, mulai dari gedung pintar, prediksi bencana, transportasi cerdas, rumah pintar, sistem kesehatan, keamanan siber, hingga pengawasan hutan dan pemantauan lingkungan menggunakan drone serta teknologi geospasial,” jelas Adhiguna.

Seminar ini juga menjadi ajang peluncuran program studi Magister Teknologi Informasi Universitas Bunda Mulia. Selain itu, dilakukan penandatanganan kerja sama antara UBM dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artificial (KORIKA), dan perusahaan teknologi XIT-AI.

Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini diharapkan menjadi tonggak kebangkitan inovasi nasional yang bertumpu pada riset dan teknologi yang tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Presiden Prabowo Dorong Pencak Silat Mendunia Menuju Olimpiade
Pj Sekda Sumut Tekankan Pemerataan Dokter Spesialis hingga Kepulauan
Dinkes Bandung Genjot Cek Kesehatan Gratis dan Imunisasi untuk Tingkatkan Kesehatan Warga
Gubernur Sumut Siap Biayai Kegiatan IPA Sumut, Dukung Program Sosial Pelajar
Presiden Prabowo Apresiasi Kinerja Satgas PKH dalam Penyelamatan Aset Negara
Polri Perkuat Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi, Dirikan Pusat Studi Kepolisian di Universitas Borobudur
komentar
beritaTerbaru