Selasa, 07 April 2026

Membangun Pendidikan Berintegritas: Kemenag Gaungkan Antikorupsi Lewat Sufistik dan Kearifan Lokal

GY Simanjuntak MSi - Minggu, 27 April 2025 10:19 WIB
Membangun Pendidikan Berintegritas: Kemenag Gaungkan Antikorupsi Lewat Sufistik dan Kearifan Lokal
Para pejabat kementerian dan lembaga memberikan keterangan pers dalam Peluncuran Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 di Jakarta, Kamis (24/4/2025). (Dok/Kemenag)
Jakarta (buseronline.com) - Komitmen untuk membangun dunia pendidikan yang berintegritas dan bebas korupsi kembali ditegaskan sejumlah kementerian dan lembaga pada peluncuran Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024, Kamis.

Salah satu yang menonjol adalah Kementerian Agama (Kemenag) yang mengusung pendekatan sufistik dan kearifan lokal dalam memperkuat pendidikan karakter antikorupsi.

SPI Pendidikan 2024 mencatat Indeks Integritas Pendidikan Nasional sebesar 69,50, menandai adanya perbaikan namun masih berada pada level korektif.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setyo Budiyanto, menyampaikan bahwa angka ini mencerminkan kejujuran sektor pendidikan namun tetap menyisakan banyak pekerjaan rumah dalam membangun karakter, ekosistem, dan tata kelola pendidikan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa pemerintah tengah menyiapkan pendekatan pembelajaran mendalam untuk diterapkan mulai tahun ajaran 2025/2026. "Pendidikan nilai tidak boleh berhenti pada aspek kognitif saja, tetapi harus menjadi bagian dari kepribadian peserta didik," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi, Stella Christie, menekankan pentingnya penggunaan data sebagai dasar transformasi kebijakan di perguruan tinggi. Ia mengatakan, "Tanpa data, efektivitas program antikorupsi akan sulit diukur dan diperbaiki."

Dalam konteks pendidikan agama, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, menekankan perlunya reformulasi pendekatan pendidikan keagamaan. Ia mengingatkan bahwa pendidikan agama tidak cukup hanya berfokus pada aspek hukum halal-haram, tetapi harus menyentuh batin manusia.

"Sudah saatnya kita mengedepankan pendidikan dengan pendekatan sufistik dan kearifan lokal, seperti nilai pamali dalam budaya kita, untuk membentuk karakter kuat dan berintegritas," tegas Amien.

Menurutnya, pendekatan sufistik membantu menginternalisasi nilai kejujuran dan integritas dari dalam hati, bukan sekadar mengikuti aturan yang tertulis. "Kalau hanya berbasis larangan, orang akan mencari celah. Tetapi bila berangkat dari kesadaran batin, karakter akan tumbuh secara alami," lanjutnya.

Sebagai langkah konkret, Kemenag juga telah melakukan digitalisasi pengelolaan dana madrasah melalui aplikasi ERKAM, yang dinilai berhasil meningkatkan transparansi dan akuntabilitas anggaran pendidikan keagamaan.

Peluncuran SPI 2024 menjadi momentum besar dalam memperkuat pendidikan karakter di Indonesia, bukan hanya mencetak lulusan cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk pribadi yang jujur, tangguh, dan berintegritas.

"Antikorupsi bukan sekadar urusan hukum, melainkan soal menjaga nurani bangsa. Pendidikan keagamaan harus menjadi benteng utama dalam membentuk nurani itu," pungkas Amien. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru