Selasa, 06 Oktober 2026

Mendikdasmen: Guru Berperan sebagai Agen Pembelajaran dan Peradaban

Selasa, 06 Oktober 2026 13:15 WIB
Mendikdasmen: Guru Berperan sebagai Agen Pembelajaran dan Peradaban
Mendikdasmen RI Abdul Mu'ti dalam webinar internasional bertajuk “Pendidikan Berkualitas untuk Semua: Peran Guru dalam Menciptakan Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman”, yang digelar Puspeka Kemendikdasmen RI bersama Institut Leimena, Jumat (2/10/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa sekaligus membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam mengajarkan sikap saling menghormati, mendengarkan, dan bekerja sama di tengah keberagaman.

Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu'ti dalam webinar internasional bertajuk "Pendidikan Berkualitas untuk Semua: Peran Guru dalam Menciptakan Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman", yang digelar Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen bersama Institut Leimena, pada 2 Oktober 2026.

Abdul Mu'ti menegaskan, guru memiliki peran sebagai "Agen Pembelajaran sekaligus Agen Peradaban". Menurutnya, pendidikan pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga membangun karakter peserta didik. "Inti dari pendidikan adalah membangun peradaban, membangun karakter," ujar Abdul Mu'ti.

Ia mengatakan, sekolah harus menjadi ruang perjumpaan bagi siswa dari berbagai latar belakang. Melalui interaksi tersebut, siswa dapat belajar mengenal, menerima, dan bekerja sama dengan orang lain yang memiliki perbedaan agama, keyakinan, maupun budaya.

Abdul Mu'ti juga menekankan pentingnya toleransi yang autentik. Setiap orang tetap dapat menjalankan keyakinannya masing-masing, sembari menghormati dan memberikan ruang kepada orang lain.

"Perbedaan seharusnya bukan menjadi pemisah, melainkan sumber pengayaan bagi kita untuk berkolaborasi satu sama lain," katanya.

Menurut Abdul Mu'ti, lingkungan sekolah yang aman dan nyaman harus mencakup aspek fisik, sosial, spiritual, hingga digital. Untuk mewujudkannya, diperlukan dukungan dan keterlibatan keluarga, masyarakat, serta media.

Penguatan lingkungan pendidikan tersebut sejalan dengan penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026.

Kebijakan tersebut menempatkan pencegahan serta keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan sebagai bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan siswa.

Kepala Puspeka Kemendikdasmen Rusprita Putri Utami menambahkan, siswa harus dilibatkan secara aktif dalam menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman.

Melalui Gerakan Rukun Sama Teman, siswa didorong menjadi Sahabat Sejati dengan menerapkan prinsip "Melihat, Mendengarkan, dan Menghubungkan".

Siswa diharapkan mampu melihat kondisi teman, mendengarkan ketika ada yang membutuhkan dukungan, serta menghubungkan dengan bantuan yang tepat.

"Budaya sekolah yang aman dan nyaman tidak hanya muncul dari peraturan. Ia hidup dalam hubungan dan tindakan kita sehari-hari," ujar Rusprita.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengatakan, peran guru dalam membangun hubungan antarmanusia semakin penting di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, pendidikan harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat pembelajaran, termasuk dalam membangun hubungan dengan orang lain yang berbeda agama, kepercayaan, dan budaya. "Kita tidak mendidik robot, tetapi manusia," kata Matius.

Ia menilai keberhasilan guru dalam mendidik juga membutuhkan dukungan masyarakat dan pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Matius menyebut program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang dijalankan Institut Leimena bersama puluhan lembaga mitra dari berbagai agama selama lima tahun terakhir telah menjangkau lebih dari 12.000 guru dan pendidik di 38 provinsi.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan UNESCO Jakarta Santosh Khatri menilai lingkungan belajar yang baik bagi siswa harus didukung lingkungan profesional yang baik bagi guru.

Menurutnya, budaya sekolah yang aman dan nyaman merupakan bagian dari proses pembelajaran karena siswa dapat mengembangkan empati dan kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain.

Ia mengatakan AI dapat membantu guru dalam perencanaan pembelajaran dan pengembangan profesional. Namun, peran manusiawi guru tetap penting, terutama dalam memahami kondisi siswa, mengenali persoalan yang belum mereka ungkapkan, serta membimbing mereka untuk mendengarkan dan menghormati orang lain.

Pengalaman membangun interaksi antaragama juga dibagikan alumni LKLB sekaligus Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal, Yonathan Djalimun.

Ia menceritakan kegiatan kunjungan persahabatan antaragama yang dilakukan siswa SMA Tritunggal Semarang ke Pondok Pesantren Al Manar di Tengaran dan Pondok Pesantren Amal Sholeh.

Menurut Yonathan, kegiatan tersebut menjadi pengalaman penting bagi siswa untuk mengenal keberagaman secara langsung dan membangun rasa saling percaya. "Praktik lebih berkesan daripada sekadar teori di kelas," tulis Yonathan dalam presentasinya.

Webinar yang didukung Templeton Religion Trust tersebut mempertemukan perspektif pemerintah, pendidik, dan lembaga internasional dalam mendorong pendidikan berkualitas bagi semua. Kegiatan digelar secara daring melalui Zoom dengan penerjemahan simultan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Mendikdasmen Dorong LPTK dan Sekolah Perkuat Ekosistem Pendidikan
61 Satuan Pendidikan di Kebumen Direvitalisasi, Wamendikdasmen Tekankan Penguatan Karakter Siswa
OPSI 2026 Jadi Wadah Pengembangan Talenta Penelitian dan Inovasi Siswa
Mendikdasmen Dorong Mahasiswa Kuasai Pengetahuan, Keterampilan, dan Karakter
Mendikdasmen Tinjau Revitalisasi SDN 1 Kedungjaya Cirebon
Kemendikdasmen Perkuat Pendidikan Pancasila melalui Budaya Sekolah
komentar
beritaTerbaru