Senin, 21 September 2026

Kemendikdasmen Perluas Akses Pelatihan Guru di Tengah Perkembangan AI

Senin, 21 September 2026 16:40 WIB
Kemendikdasmen Perluas Akses Pelatihan Guru di Tengah Perkembangan AI
Sosialisasi PMKKA dilakukan melalui webinar yang diikuti guru SMA, SMK, dan SLB, kepala sekolah, pengawas, penanggung jawab PMKKA pada BBGTK, BGTK, dan KGTK, serta pengelola program pada dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota.

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) memperluas akses pengembangan kompetensi guru melalui Pelatihan Mandiri dan Diklat Bauran Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (PMKKA).

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, program tersebut merupakan upaya pemerintah meningkatkan kompetensi guru di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, termasuk hadirnya kecerdasan artifisial (AI) dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan pendidikan.

Sosialisasi PMKKA dilakukan melalui webinar yang diikuti guru SMA, SMK, dan SLB, kepala sekolah, pengawas, penanggung jawab PMKKA pada BBGTK, BGTK, dan KGTK, serta pengelola program pada dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengatakan PMKKA menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih mendalam, bermakna, dan relevan dengan perkembangan zaman.

"Melalui PMKKA, kami ingin mendorong guru tidak hanya menguasai materi, tetapi mampu menerjemahkannya menjadi praktik pembelajaran yang nyata dan bermakna di kelas," ujar Nunuk.

Ia berharap sosialisasi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Para guru diharapkan dapat memahami, mengakses, dan menerapkan PMKKA di sekolah masing-masing.

Praktik baik yang diperoleh selama pelatihan juga diharapkan dapat dibagikan melalui forum guru, kelompok kerja, maupun komunitas belajar sehingga manfaat program dapat menjangkau lebih banyak guru dan satuan pendidikan.

Sementara itu, Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Arif Jamali, mengatakan Pelatihan Mandiri dan Diklat Bauran memberikan kesempatan belajar yang lebih luas bagi guru, terutama mereka yang belum terjangkau pelatihan tatap muka.

"Program sebaik apa pun perlu dipahami oleh mereka yang akan menjalankannya. Karena itu, sosialisasi ini penting agar peserta memahami tujuan, alur, mekanisme, hingga dukungan yang tersedia selama pelatihan," kata Arif.

Menurutnya, pengembangan kompetensi guru tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Hasil pelatihan perlu diterapkan dalam praktik pembelajaran di kelas. Untuk itu, dukungan dinas pendidikan, satuan pendidikan, UPT, serta komunitas guru diperlukan agar peserta dapat mengikuti pelatihan hingga tuntas dan menerapkan hasil belajarnya.

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah bidang STEM dan Kompetensi Guru, Maila Dania Husni Rahiem, menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam bukan sekadar perubahan metode mengajar.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang membuat murid memahami materi, menghubungkannya dengan kehidupan nyata, serta menggunakan pengetahuan untuk berpikir dan menyelesaikan masalah.

Pembelajaran Mendalam memiliki tiga karakteristik utama, yakni berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Dengan pendekatan ini, murid diharapkan tidak hanya mengingat informasi, tetapi memahami makna pembelajaran dan mampu menerapkannya dalam kehidupan.

"Kita ingin murid lebih paham dan guru semakin berdaya. Berbagai pendekatan dan teknologi yang digunakan dalam pembelajaran pada akhirnya harus memberikan pengalaman belajar yang lebih baik bagi murid," jelas Maila.

Ia mengatakan Koding dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir komputasional, logis, sistematis, dan kreatif. Sementara Kecerdasan Artifisial dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pembelajaran dengan tetap memperhatikan kemampuan berpikir kritis, etika, dan tanggung jawab.

"Semakin mudah teknologi digunakan, semakin penting kemampuan berpikir kritis. Guru tetap memiliki peran penting untuk mendampingi murid agar mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab," ujarnya.

Dari sisi teknis, Yoki Ariyana dari BBGTK Jawa Barat menjelaskan Pelatihan Mandiri memberikan ruang bagi guru untuk belajar secara fleksibel melalui Rumah Pendidikan.

Peserta dapat mempelajari berbagai topik dan modul, mengikuti latihan pemahaman, menuliskan cerita refleksi, kemudian mengikuti post-test untuk mengukur pemahaman. Peserta juga memperoleh rekomendasi untuk mempelajari kembali materi yang masih perlu diperkuat.

Sementara itu, Diklat Bauran ditujukan bagi pengajar Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial tahun 2025, serta peserta yang telah menuntaskan Pelatihan Mandiri.

Diklat tersebut memadukan pembelajaran mandiri dan kolaboratif dengan capaian penguasaan pengetahuan dan keterampilan pada level lanjut hingga mahir.

"Peserta perlu mengikuti setiap tahapan yang sudah disiapkan agar proses belajar tidak berhenti pada membaca materi, tetapi benar-benar memberikan pengalaman belajar yang utuh," ujar Yoki.

Kemendikdasmen berharap perluasan akses PMKKA dapat memberikan kesempatan lebih besar kepada guru SMA, SMK, dan SLB untuk meningkatkan kompetensi dan membawa hasil pembelajaran tersebut ke ruang kelas.

Upaya tersebut diharapkan turut mendorong terciptanya pembelajaran yang lebih relevan, bermakna, dan sesuai dengan tantangan perkembangan teknologi, sehingga murid semakin siap menghadapi masa depan. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
PISA 2025: 80 Persen Murid Indonesia Punya Rasa Ingin Tahu Tinggi
Kemendikdasmen Perkuat Diplomasi Indonesia-Prancis Lewat Bahasa dan Sastra
Kemenkes Luncurkan Playbook Respons Cepat Tangani Hoaks Kesehatan
Polri Kembali Raih Opini WTP BPK, Jadi yang ke-13 Kali
Hasil PISA 2025, Skor Sains dan Membaca Indonesia Naik
Kemendikdasmen Fasilitasi 32.828 Guru Lanjut S1/D4 pada 2026
komentar
beritaTerbaru