Senin, 17 Agustus 2026

Papan Interaktif Digital Dorong Guru di Bandung Barat Ciptakan Pembelajaran Lebih Interaktif

Senin, 17 Agustus 2026 15:50 WIB
Papan Interaktif Digital Dorong Guru di Bandung Barat Ciptakan Pembelajaran Lebih Interaktif
Pemanfaatan teknologi digital mulai membawa perubahan dalam proses pembelajaran di sejumlah sekolah di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Bandung Barat (buseronline.com) - Pemanfaatan teknologi digital mulai membawa perubahan dalam proses pembelajaran di sejumlah sekolah di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, kehadiran Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Digital Panel (IFP) memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kreatif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Pemanfaatan perangkat tersebut diperkuat melalui kegiatan Advokasi Pemanfaatan Perangkat Digitalisasi Pembelajaran yang diselenggarakan Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Dalam kegiatan tersebut, para guru tidak hanya dikenalkan pada berbagai fitur Papan Interaktif Digital, tetapi juga mendapatkan pembekalan mengenai pembuatan media pembelajaran, pengembangan bahan ajar, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk mendukung pembelajaran.

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto mengatakan digitalisasi pendidikan harus diikuti dengan peningkatan kompetensi guru.

Menurutnya, keberhasilan digitalisasi tidak semata-mata ditentukan oleh tersedianya perangkat digital di sekolah, tetapi juga oleh kemampuan guru dalam memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

"Teknologi tidak menggantikan peran guru. Justru teknologi harus memperkuat kemampuan dan peran guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan murid," ujar Gogot.

Ia menegaskan, Papan Interaktif Digital harus menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar perangkat yang tersedia di ruang kelas.

"Perangkat ini harus hidup dalam proses pembelajaran, digunakan guru untuk menjelaskan konsep dengan lebih menarik, membuka ruang interaksi, mengembangkan kreativitas murid, dan pada akhirnya membantu setiap anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih baik," katanya.

Manfaat penggunaan IFP dirasakan langsung oleh Sumirah, guru Matematika SMPN 1 Atap Rimbakarya, Kabupaten Bandung Barat. Sumirah mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru selama mengikuti kegiatan advokasi.

Ia mempelajari cara menyusun perencanaan pembelajaran, membuat media pembelajaran interaktif, hingga mengembangkan Learning Management System (LMS) dengan memanfaatkan AI.

"Kegiatan advokasi pada hari ini banyak sekali hal yang saya dapatkan. Bagaimana pemanfaatan papan interaktif digital yang sudah diberikan kepada sekolah kami," ujar Sumirah.

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, Sumirah berencana mengeksplorasi kembali materi yang diperoleh sebelum diterapkan di kelas. Ia akan memperbaiki perencanaan, bahan ajar, dan media pembelajaran agar pemanfaatan IFP dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Menurut Sumirah, teknologi digital diharapkan mampu membuat pembelajaran Matematika menjadi lebih menarik. Siswa yang sebelumnya pasif diharapkan dapat lebih aktif dan antusias mengikuti pembelajaran.

"Semoga pembelajaran di sekolah saya, utamanya di kelas saya, bisa lebih aktif. Banyak siswa yang tadinya pasif bisa mengikuti pembelajaran dengan baik, terutama di pelajaran Matematika yang tadinya mungkin membosankan dan mumet, jadi lebih antusias," tuturnya.

Pengalaman serupa disampaikan Dewa Romshani, guru SMP PGRI 385 Puteran. Ia mengaku mendapatkan pengalaman baru setelah mempelajari berbagai fitur yang terdapat dalam Papan Interaktif Digital.

Beberapa fitur yang dipelajari antara lain penggunaan lima jari, dua layar, serta penerjemahan otomatis dalam Bahasa Inggris.

"Alhamdulillah yang saya dapatkan dari pelatihan advokasi ini banyak sekali, mulai dari fitur-fitur papan interaktif digital, mulai dari lima jari, kemudian bisa dua layar, kemudian saya lebih tahu bahwa ternyata Bahasa Inggris juga bisa dipakai di papan interaktif ini mulai dari translate otomatis," kata Dewa.

Menurutnya, penggunaan teknologi membuat guru memiliki lebih banyak pilihan dalam menyampaikan materi. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga pada media yang digunakan untuk membuat siswa lebih mudah memahami pelajaran.

"Saya jadi lebih tahu bahwasanya belajar itu enggak hanya soal materi, tetapi tentang media belajar yang bisa digunakan dan dikembangkan oleh AI dan papan interaktif ini," ujarnya.

Dewa berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada guru-guru lain di sekolah. Ia juga akan mengembangkan kembali berbagai media pembelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam kepada siswa.

Dewa berharap kegiatan advokasi pemanfaatan perangkat digital dapat diperluas sehingga lebih banyak guru memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan.

Menurutnya, saat ini peserta merupakan perwakilan dari masing-masing sekolah. Karena itu, diperlukan pelatihan lanjutan agar pengetahuan mengenai pemanfaatan teknologi dapat diteruskan kepada guru-guru lainnya.

"Harapan saya untuk pelatihan advokasi ini mungkin lebih luas lagi cakupan guru yang dituju. Mungkin ke depannya bisa lebih banyak lagi untuk guru-guru yang lain untuk bisa mengikuti pelatihan advokasi ini," tuturnya.

Ia menilai pelatihan tersebut sangat bermanfaat bagi guru, terutama dalam mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi di sekolah yang masih memiliki keterbatasan.

Pemanfaatan Papan Interaktif Digital dan AI di Bandung Barat menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi pembelajaran.

Kehadiran perangkat digital diharapkan tidak berhenti sebagai fasilitas sekolah, tetapi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh guru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, kreatif, dan menarik.

Dengan peningkatan kompetensi serta pendampingan yang berkelanjutan, teknologi diharapkan semakin terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar dan pada akhirnya memberikan pengalaman belajar yang lebih baik bagi seluruh peserta didik. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemendikdasmen Apresiasi Bengkayang Perkuat Kompetensi Guru di Wilayah Terpencil
Kemendikdasmen Perkuat Akses Pendidikan melalui Beasiswa SCG Sharing the Dream 2026
Kemendikdasmen Percepat Revitalisasi SLB, Wujudkan Pendidikan Inklusif di Yogyakarta
Kemendikdasmen Dorong Guru Vokasi Kuasai AI untuk Hadapi Perkembangan Teknologi
Hari Anak Nasional, BBPMP Jabar Perkuat Komitmen Wujudkan PAUD Aman dan Berkualitas
Kemendikdasmen Dorong Peningkatan Mutu Pendidikan di Kabupaten Bungo
komentar
beritaTerbaru