Sumedang (buseronline.com) - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan agar batas maksimal penghasilan orangtua mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dinaikkan menjadi Rp10 juta per bulan.
Usulan tersebut disampaikan Dedi saat memberikan kuliah umum kepada ribuan mahasiswa baru dalam rangka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Penerimaan Raya Mahasiswa Baru Universitas Padjadjaran (Prabu) Tahun Akademik 2026/2027 di Stadion Jati Padjadjaran, Kampus Unpad Jatinangor, Senin.
Dedi mengatakan, saat ini salah satu ketentuan penerima KIP Kuliah adalah penghasilan orangtua berada di bawah upah minimum provinsi (UMP) di domisili mahasiswa. Untuk Jawa Barat, batas penghasilan tersebut berada di kisaran Rp2,3 juta.
Menurut Dedi, batas tersebut perlu dievaluasi agar semakin banyak mahasiswa dari keluarga yang kesulitan secara ekonomi dapat memperoleh akses pendidikan tinggi. "Saya usul agar nanti ketentuannya di bawah Rp10 juta boleh dapat KIP," kata Dedi dilansir dari laman Jabarprov.
Pernyataan itu disampaikan setelah Dedi mendengar sejumlah keluhan mahasiswa terkait tingginya biaya pendidikan dan biaya hidup di kawasan Jatinangor. Keluhan tersebut antara lain menyangkut besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), biaya kos, hingga kebutuhan hidup sehari-hari.
Sejumlah mahasiswa yang menyampaikan keluhan tersebut bahkan berasal dari jalur prestasi dan terdapat pula mahasiswa penyandang disabilitas.
Salah satunya Gina, mahasiswi penyandang disabilitas netra. Ia mengaku bersyukur dapat menempuh pendidikan di Unpad secara gratis.
Gina berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap penyandang disabilitas agar mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan, termasuk hingga perguruan tinggi.
Dedi juga meminta mahasiswa tidak menyerah dan jangan sampai berhenti kuliah hanya karena persoalan biaya. Menurutnya, tekad dan kemauan untuk menyelesaikan pendidikan harus menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai kesulitan.
Sebagai bentuk kepedulian, Dedi memberikan bantuan langsung kepada sejumlah mahasiswa. Bantuan tersebut di antaranya biaya kos selama dua tahun, biaya kuliah gratis selama lima semester, serta modal usaha sebesar Rp5 juta bagi mahasiswa yang ingin menjalankan usaha kecil untuk membantu memenuhi kebutuhan selama kuliah.
Dedi menegaskan, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penyebab seseorang gagal menyelesaikan pendidikan tinggi.
"Jangan hanya mengejar gelar akademik namun perbanyak pengalaman selama menjadi mahasiswa. Jadikanlah kesulitan itu sahabat agar Anda menjadi orang yang mampu, tidak mengalami masalah ketika berhadapan dengan kesulitan. Musuh jangan dijauhi, tapi jadikan temannya," ujar Dedi.
Dalam kuliah umum tersebut, mahasiswa juga menyampaikan sejumlah aspirasi kepada Gubernur Jawa Barat.
Livy, mahasiswa asal Depok, meminta pemerintah memperbaiki jalan-jalan di Jatinangor, khususnya yang berada di kawasan kampus. Ia menyatakan siap ikut menjaga dan memperbaiki lingkungan kampus bersama rekan-rekannya.
Menanggapi hal tersebut, Dedi menjelaskan bahwa jalan yang dimaksud merupakan jalan nasional sehingga kewenangannya berada di pemerintah pusat.
Meski demikian, ia akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum terkait kondisi jalan tersebut. Jika mendapat izin, Pemprov
Jawa Barat siap ikut turun tangan.
"Kalau diizinkan tahun depan kinclong. Tapi warga kampus juga harus ikut menjaga kebersihan lingkungan," tegasnya.
Sementara itu, Keisya, mahasiswi kedokteran hewan, menyampaikan keinginannya untuk berkontribusi dalam menjaga keanekaragaman satwa di Indonesia.
Ia mengaku prihatin karena peminat kedokteran hewan masih lebih sedikit dibandingkan kedokteran umum. Bahkan, profesi dokter hewan terkadang masih dianggap sebelah mata.
Dedi pun memberikan motivasi kepada Keisya agar tidak berkecil hati. Ia mengatakan kebutuhan dokter hewan di Indonesia masih sangat besar, baik di perusahaan swasta, BUMN maupun pemerintahan.
Menurut Dedi, profesi dokter hewan juga memiliki prospek yang menjanjikan dan berpotensi memberikan penghasilan yang besar.
Ia pun mendorong para mahasiswa untuk tidak hanya mengejar gelar, tetapi juga membangun pengalaman, kemampuan, dan kemandirian selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi. (R)
beritaTerkait
komentar