Bandung (buseronline.com) - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Jawa Barat untuk memperkuat peran insan akademik agar tidak hanya berhenti pada pemikiran, tetapi mampu menghasilkan karya dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan
Dedi Mulyadi saat menjadi keynote speaker dalam Pembukaan Resmi Musyawarah Wilayah (Muswil) VII KAHMI
Jawa Barat di Grand Asrili Hotel Convention, Kota Bandung, Jumat malam.
Menurut Dedi, berbagai persoalan bangsa tidak cukup diselesaikan hanya melalui perubahan aturan maupun pergantian pemerintahan. Diperlukan pemikiran yang dapat diterapkan dalam tindakan nyata serta memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat.
Dedi menilai masih terdapat jarak antara dunia akademik dan kehidupan masyarakat. Ilmu pengetahuan, menurutnya, seharusnya tidak hanya menjadi teori atau bahan pembelajaran, tetapi dapat digunakan untuk menciptakan solusi atas berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan seseorang dalam bidang akademik tidak hanya diukur dari banyaknya gelar yang diperoleh. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana ilmu tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
"Kalau sudah pencipta, maka harus ada yang diciptakan. Bisa menciptakan lagu, karya arsitektur, sistem pendidikan, sistem aplikasi, sistem energi," ujar Dedi dilansir dari laman Jabarprov.
Dedi juga mendorong insan akademik untuk menjadi pencipta dan inovator. Menurutnya, seorang intelektual tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi harus mampu mengubah pengetahuan tersebut menjadi karya yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Selain itu, Dedi mengajak KAHMI untuk menyampaikan gagasan dan nilai-nilai keislaman dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami masyarakat luas. "Seluruh bahasa yang langit itu harus dijelaskan dalam bahasa bumi," katanya.
Menurut Dedi, ilmu dan pengetahuan seharusnya hadir di tengah masyarakat untuk membawa perubahan. Ia kemudian mencontohkan tokoh Semar dalam pewayangan yang meskipun memiliki kedudukan tinggi, memilih hadir dan bekerja di tengah masyarakat agar dapat memberikan perubahan secara langsung.
Dari pesan tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan dan pengetahuan tidak seharusnya berhenti pada teori, nilai, ataupun gelar akademik. Ilmu harus diwujudkan dalam tindakan, inovasi, dan karya yang memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, insan akademik diharapkan tidak hanya menjadi orang yang memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi pencipta, pemecah masalah, dan penggerak perubahan positif di tengah masyarakat. (R)
beritaTerkait
komentar