Lebih lanjut, Fajar menegaskan bahwa
Pancasila merupakan titik temu yang mempersatukan keberagaman bangsa Indonesia. Ia menilai
Pancasila bukan untuk menyeragamkan perbedaan, melainkan menjadi rumah bersama yang menjaga persatuan di tengah keragaman suku, agama, budaya, dan golongan.
Nilai inklusivitas itu, lanjutnya, juga tercermin dalam penghormatan terhadap masyarakat adat Baduy yang menjadi bagian penting identitas budaya Kabupaten Lebak. Menurut dia, pembangunan pendidikan harus berjalan seiring dengan upaya melestarikan budaya, menghormati kearifan lokal, serta menjaga harmoni antara manusia dan alam.
Pada kesempatan yang sama, Fajar menyampaikan bahwa pemerintah tengah mengkaji penguatan pengajaran bahasa asing sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan global peserta didik. Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung diplomasi budaya Indonesia sekaligus memperkuat kontribusi generasi muda dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Sejalan dengan tema Hari Lahir
Pancasila tahun ini, "
Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia", Fajar mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan
Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
"Pancasila bukan hanya untuk diperingati, tetapi untuk dihidupi. Nilai-nilainya harus tercermin dalam cara kita melayani, mendidik, bekerja, dan membangun masa depan bangsa," pungkasnya. (R)
beritaTerkait
komentar