Rabu, 20 Mei 2026

Wamenkes Dorong Penguatan Sistem Peringatan Dini Polusi Udara

Rabu, 20 Mei 2026 15:03 WIB
Wamenkes Dorong Penguatan Sistem Peringatan Dini Polusi Udara
Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono foto bersama dengan lainnya usai membuka Seminar Nasional Sistem Peringatan Dini Polusi Udara yang diselenggarakan Universitas Indonesia bersama RCCC UI di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (18/5/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono menegaskan pentingnya penguatan sistem peringatan dini polusi udara berbasis data terpadu guna melindungi masyarakat dari dampak kesehatan akibat pencemaran udara.

Hal itu disampaikan Dante saat membuka Seminar Nasional Sistem Peringatan Dini Polusi Udara yang diselenggarakan Universitas Indonesia bersama Research Center for Climate Change (RCCC) UI di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin.

Dilansir dari laman Kemkes, dalam keynote speech-nya, Dante mengajak peserta melihat realitas polusi udara melalui pengalaman sehari-hari masyarakat Jabodetabek.

Ia menggambarkan kondisi ketika setelah hujan deras langit tampak cerah dan Gunung Salak serta Gunung Gede dapat terlihat jelas dari Jakarta.

Namun pada hari-hari biasa, kata dia, pandangan tersebut tertutup kabut abu-abu akibat polusi udara. "Kabut itulah polusi udara yang ada di sekitar kita setiap hari," ujar Dante.

Ia mengatakan polusi udara merupakan ancaman kesehatan serius yang berdampak pada seluruh kelompok usia. Berdasarkan data WHO, sebanyak 9 dari 10 orang di dunia hidup di wilayah dengan kualitas udara tercemar.

Menurut Dante, anak-anak berisiko mengalami pneumonia hingga gangguan tumbuh kembang akibat polusi udara. Sementara lansia menghadapi risiko penurunan fungsi organ, pasien penyakit kronis rentan mengalami komplikasi, dan pekerja luar ruangan berisiko terkena penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Dante menyebut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus memperkuat transformasi kesehatan untuk menghadapi dampak pencemaran udara, mulai dari upaya promotif dan preventif hingga kesiapan layanan kesehatan.

Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah belum tersedianya sistem data terpadu yang mampu menghubungkan kualitas udara dengan dampak kesehatan secara langsung.

"Celah inilah yang menjadi peluang kita untuk sama-sama memperkuat sistem peringatan dini melalui integrasi data yang kuat," katanya.

Ia berharap seminar nasional tersebut dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mendorong pengembangan sistem peringatan dini polusi udara yang responsif, berbasis data, dan berorientasi jangka panjang.

"Melalui sistem peringatan dini yang baik, kita dapat merespons risiko polusi udara lebih cepat dan tepat serta melindungi kelompok rentan. Demi mewujudkan Indonesia yang tidak hanya maju dan mandiri, tetapi juga sehat dan lestari," tuturnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Indri Hapsari Susilowati menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan manusia dan keberlanjutan ekosistem.

Ia menyebut isu kesehatan kini tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan dan perubahan ekosistem bumi. Karena itu, seminar tersebut diharapkan menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pembelajaran, kebijakan, dan aksi nyata terkait pengendalian polusi udara.

Seminar nasional ini dihadiri perwakilan kementerian dan lembaga, akademisi, peneliti, pemerintah daerah, serta pegiat lingkungan dan kesehatan dari wilayah Jabodetabek. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Wamenkes Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Syariah yang Holistik
Kemenkes Benahi Total Program Internsip Dokter
Pemerintah Genjot Penanganan TB di Papua Lewat Skrining dan Perbaikan Hunian
Kemenkes Dorong Siswa Jadi “First Aider” Kesehatan Mental Lewat Bedah Buku
Kasus Kebutaan Katarak Capai 650 Ribu, Pemerintah Perkuat Layanan Operasi Gratis
Wamenkes Dorong Percepatan Program Penanggulangan TB, Target Eliminasi 2030 Dikejar
komentar
beritaTerbaru