Depok (buseronline.com) - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa penguatan kapasitas produksi kesehatan dalam negeri menjadi faktor strategis untuk melindungi Indonesia dari risiko krisis kesehatan global di masa mendatang. Hal tersebut disampaikannya saat peresmian Pengembangan Fasilitas Manufaktur dan Riset Bayer Indonesia di Depok, Jawa Barat, Rabu.
Menurut Menkes Budi, peresmian fasilitas tersebut merupakan langkah penting dalam memperkuat kemandirian sistem kesehatan nasional, khususnya dalam menghadapi potensi pandemi atau wabah penyakit berskala global.
Ia menyinggung pengalaman pandemi COVID-19 yang menunjukkan kerentanan negara-negara yang tidak memiliki kemampuan produksi obat, vaksin, dan alat kesehatan secara mandiri. Pembatasan mobilitas internasional pada masa krisis membuat negara yang bergantung pada impor berada pada posisi sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok.
“Tanpa kapasitas industri di dalam negeri, populasi besar seperti Indonesia menghadapi risiko serius ketika terjadi wabah berskala global,” ujar Budi Gunadi Sadikin.
Ia menekankan bahwa ketahanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan layanan medis dan rumah sakit, tetapi juga kesiapan industri penunjang yang mampu tetap beroperasi dalam kondisi darurat. Oleh karena itu, investasi di sektor farmasi dan kesehatan dinilai sebagai bagian dari perlindungan nasional yang strategis, setara dengan pembangunan infrastruktur vital lainnya.
Sementara itu, Head of Bayer Product Supply Consumer Health Asia & ANZ PT Bayer Indonesia, Priscilla Silvan Prarizta, menyampaikan komitmen Bayer dalam memperkuat ekosistem kesehatan nasional melalui investasi jangka panjang di Indonesia.
“Melalui inisiatif ini, Bayer menginvestasikan sebesar Rp99 miliar untuk meningkatkan kapabilitas manufaktur, termasuk produksi Multiple Micronutrient Supplement (MMS), sekaligus memperkuat peran pabrik Cimanggis sebagai bagian dari pusat riset dan pengembangan global Bayer,” ujar Priscilla.
Ia menjelaskan, investasi tersebut memungkinkan pabrik Cimanggis memproduksi hingga 1,2 miliar tablet MMS per tahun. Produk-produk tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga diekspor ke 42 negara lainnya.
“Seluruh operasional pabrik dijalankan oleh tenaga profesional Indonesia. Sementara fasilitas R&D kami berfokus pada peningkatan kualitas serta optimalisasi formulasi agar produk tetap aman dan efektif di berbagai kondisi iklim,” jelasnya.
Di kesempatan yang sama, dilansir dari laman Kemenkes, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, ASEAN, dan Timor Leste, Ralf Beste, menilai investasi Bayer mencerminkan kekuatan basis industri Jerman yang berorientasi jangka panjang. Menurutnya, produksi lokal dan transfer teknologi menjadi elemen penting dalam membangun ketahanan ekonomi dan kesehatan.
“Kami sangat senang melihat keputusan untuk memproduksi di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai hub. Hal ini membawa manfaat berupa produksi lokal, transfer pengetahuan, serta penguatan kemitraan antara Jerman dan Indonesia,” ujar Ralf Beste.
Ia menambahkan bahwa sektor kesehatan dan farmasi diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama dalam peningkatan kerja sama ekonomi antara kedua negara pada masa mendatang.
Dengan adanya penguatan industri farmasi dalam negeri, pemerintah berharap Indonesia semakin siap menghadapi ancaman pandemi serta mampu menjamin ketersediaan obat dan suplemen kesehatan secara berkelanjutan bagi masyarakat. (R)
beritaTerkait
komentar