Senin, 06 April 2026

Relawan TCK Turun ke Pengungsian Aceh Tamiang, Fokus Layanan Kesehatan dan Pemetaan Penyakit

EM Bukit MKes - Minggu, 11 Januari 2026 11:14 WIB
Relawan TCK Turun ke Pengungsian Aceh Tamiang, Fokus Layanan Kesehatan dan Pemetaan Penyakit
Relawan TCK Turun ke Pengungsian Aceh Tamiang Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) memberikan pelayanan medis sekaligus melakukan pemetaan penyakit kepada warga terdampak bencana di lokasi pengungsian Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Ac

Aceh Tamiang (buseronline.com) - Relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) terus memberikan pelayanan kesehatan sekaligus melakukan pemetaan risiko penyakit di lokasi pengungsian warga terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kamis.


Salah satu relawan medis, dr Muhammad Fahriza dari RSUD Sungai Daerah, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, mengatakan bahwa pelayanan kesehatan di posko pengungsian tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada upaya mitigasi penyakit pascabencana melalui pemetaan kondisi kesehatan masyarakat.


Pada hari pertama pelayanan, tim relawan menemukan sejumlah penyakit yang cukup dominan di lokasi pengungsian, di antaranya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hipertensi, dan diare. Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk melakukan penelusuran lebih lanjut terhadap faktor risiko, terutama yang berkaitan dengan sanitasi lingkungan dan pola konsumsi masyarakat pengungsi.


“Saat ini kami melakukan pelayanan kesehatan di posko sekaligus melakukan mapping penyakit yang banyak ditemui. Di hari pertama, kasus yang cukup dominan adalah ISPA, hipertensi, dan diare. Ke depan, data ini akan kami telusuri lebih lanjut, apakah berkaitan dengan makanan, sanitasi, atau faktor lingkungan lainnya,” ujar dr Fahriza.


Ia menjelaskan, setelah melakukan pencatatan data awal di pos kesehatan, tim relawan akan turun langsung ke tenda-tenda pengungsian untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan yang dihadapi warga secara lebih spesifik. Dengan demikian, intervensi yang dilakukan dapat lebih tepat sasaran.


“Kami turun langsung ke tenda-tenda untuk mencari permasalahan yang ada. Dari situ, kami bisa langsung melakukan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat agar kondisi kesehatan mereka ke depan bisa lebih baik,” tambahnya.


Dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan, dilansir dari laman Kemenkes, tim relawan terlebih dahulu mengumumkan keberadaan pos kesehatan kepada masyarakat. Selanjutnya dilakukan proses pendaftaran, pemeriksaan tanda-tanda vital, hingga pemberian pelayanan medis sesuai keluhan pasien. Apabila ditemukan kasus yang membutuhkan penanganan lanjutan, pasien akan dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat.


“Jika ada kasus yang memerlukan rujukan, kami akan berkoordinasi dengan puskesmas atau langsung ke rumah sakit, tergantung kondisi mana yang paling menguntungkan dan aman bagi pasien,” jelas dr Fahriza.


Hingga saat ini, belum ditemukan lonjakan signifikan penyakit menular di lokasi pengungsian. Meski demikian, ISPA masih menjadi kasus yang paling banyak dijumpai dan terus dimitigasi agar tidak berkembang menjadi kejadian luar biasa.


Selain aspek kesehatan fisik, tim relawan juga memperhatikan kondisi kesehatan mental masyarakat terdampak bencana. Menurut dr Fahriza, kondisi psikologis warga secara umum mulai membaik meski masih terdapat sebagian pengungsi yang mengalami trauma.


“Kondisi mental masyarakat saat ini sudah mulai pulih. Memang masih ada yang mengalami trauma, namun secara umum masyarakat sudah mulai beradaptasi dengan kondisi yang ada, mengingat bencana ini sudah berlangsung sekitar satu bulan,” ungkapnya.


Sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit pascabencana, tim relawan juga melakukan pemetaan kondisi sanitasi lingkungan di area pengungsian. Namun demikian, keterbatasan fasilitas dan peralatan kesehatan di lapangan masih menjadi tantangan tersendiri.


“Ketersediaan obat-obatan, terutama obat kronik, serta alat kesehatan dan fasilitas pemeriksaan laboratorium sederhana masih sangat terbatas. Jika fasilitas ini dapat dilengkapi, pelayanan kesehatan tentu akan lebih efektif,” katanya.


Tim TCK yang bertugas di Desa Sukajadi terdiri dari satu orang dokter, dua perawat, satu tenaga kesehatan lingkungan, dan satu apoteker. Tim tersebut terus berupaya memberikan pelayanan kesehatan terbaik sekaligus melakukan langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi peningkatan kasus penyakit di wilayah pengungsian Aceh Tamiang. (R)

Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
Alumni Pejuang Digital Dilepas Wapres dan Mendikdasmen, Beasiswa Negara Kembali ke Rakyat
Revitalisasi 19 Sekolah di Karangasem Selesai, Kemendikdasmen Tegaskan Keberlanjutan Program
Perkuat Posisi Jateng sebagai Pusat Batik Nasional, Nawal Yasin Ajak Pengrajin Berinovasi
Nawal Yasin Kunjungi Kampung Singkong Salatiga, Tekankan Inovasi UMKM Lokal
komentar
beritaTerbaru