Senin, 27 Juli 2026

Ancaman Penyakit Menular di Pengungsian Jadi Perhatian Kemenkes, Campak Jadi Prioritas

Jumat, 09 Januari 2026 11:32 WIB
Ancaman Penyakit Menular di Pengungsian Jadi Perhatian Kemenkes, Campak Jadi Prioritas
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin berdialog dengan tenaga kesehatan saat meninjau layanan kesehatan di lokasi pengungsian terdampak bencana, Rabu (7/1/2026). (Dok/Kemenkes)

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi merebaknya penyakit menular di lokasi pengungsian pascabencana yang hingga kini masih menampung ratusan ribu warga. Salah satu penyakit yang menjadi perhatian utama adalah campak, karena memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi.


Dilansir dari laman Kemenkes, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemantauan kondisi kesehatan pengungsi dilakukan secara ketat dan berkelanjutan setiap hari melalui sistem pelaporan terintegrasi. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyesuaikan distribusi obat-obatan, tenaga medis, serta tenaga kesehatan ke lokasi-lokasi pengungsian.


“Pemantauan kita lakukan setiap hari. Dari situ kita bisa menyesuaikan kebutuhan obat, tenaga medis, dan tenaga kesehatan di lapangan,” ujar Menkes Budi dalam Konferensi Pers Update Penanganan Bencana Sumatra di Grha BNPB, Jakarta, Rabu.


Berdasarkan hasil pemantauan sementara, penyakit yang paling banyak ditemukan di lingkungan pengungsian adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, serta diare. Menkes memastikan bahwa ketersediaan obat-obatan terus disesuaikan dengan jenis penyakit yang dominan di lapangan.


“Obat-obatan kita sesuaikan dengan jenis penyakitnya, supaya penanganannya bisa tepat dan cepat,” jelasnya.


Selain penyakit umum tersebut, Kementerian Kesehatan juga memberikan perhatian khusus terhadap penyakit menular yang berpotensi menimbulkan wabah, terutama campak.


Menurut Menkes Budi, campak menjadi penyakit yang paling diwaspadai karena sangat mudah menular, terutama di lingkungan pengungsian yang padat.


“Penyakit menular yang kita amati dengan sangat dekat itu yang kita paling takut campak,” tegasnya.


Ia mengungkapkan, hingga saat ini Kemenkes telah mengidentifikasi adanya kasus campak di lima kabupaten terdampak bencana. Deteksi dini terus dilakukan untuk mencegah penyebaran yang lebih luas, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak.


Sebagai langkah pencegahan, pemerintah segera melaksanakan program imunisasi khusus di wilayah-wilayah yang terdeteksi memiliki risiko tinggi penularan.


“Kita sudah lakukan imunisasi program khusus, dan itu sudah berjalan sejak minggu ini,” ujar Menkes Budi.


Imunisasi difokuskan pada anak-anak di lokasi pengungsian serta wilayah sekitar yang memiliki potensi penyebaran campak. Upaya ini menjadi bagian penting dari strategi penanganan kesehatan pascabencana agar kondisi kesehatan masyarakat tetap terjaga selama masa pemulihan berlangsung.


Kementerian Kesehatan menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta instansi terkait guna memastikan tidak terjadi lonjakan kasus penyakit menular di tengah situasi darurat. (R)

Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Melalui PI, PJJ Tanjungrejo 2 Perkuat Iman dan Kebersamaan Jemaat GBKP Namo Kamuna
Seskab Teddy Ajak Masyarakat Jelajahi Indonesia Lewat Berbagai Event Nasional dan Internasional 2026-2027
Pemerintah Selaraskan Aturan KEK, Perusahaan Ber-TKDN Tinggi Dapat Akses Setara
KPK Ajak Aparatur Peradilan Perkuat Integritas demi Wujudkan Penegakan Hukum yang Bersih
Wagub Sumut Tegaskan Pembangunan Sekolah Harus Sejalan dengan Peningkatan Mutu Pendidikan
Wagub Sumut Pastikan Pembangunan Bronjong Jalan Miga-Lolowua Rampung Tepat Waktu
komentar
beritaTerbaru