Bandung (buseronline.com) - Suasana penuh kepedulian dan semangat solidaritas memenuhi area Braga Citywalk, Jumat sore, dalam kegiatan talkshow bertajuk “Strategi Mencapai Three Zero 2030 melalui Program Tebar Cinta Akhiri AIDS”.
Acara tersebut menjadi bagian dari rangkaian Program Tebar Cinta Akhiri AIDS, sebuah gerakan sosial yang digagas Baznas Kota Bandung dan melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, DPRD, komunitas, serta relawan kemanusiaan.
Program ini tidak hanya berfokus pada pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS, tetapi juga pada pemulihan martabat dan penghapusan stigma yang masih kerap dialami para penyintas. Gerakan ini menegaskan bahwa perjuangan melawan HIV bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga isu kemanusiaan.
Talkshow menghadirkan dua narasumber utama, yakni Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung sekaligus dokter, Agung Firmansyah Sumantri, serta Plt Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dadan Mulyana Kosasih.
Dalam paparannya, dr Agung menekankan bahwa stigma masih menjadi hambatan besar dalam penanganan HIV/AIDS, meskipun berbagai kemajuan pengobatan telah dicapai.
“Masalah HIV bukan hanya tentang virus, tetapi tentang masa depan manusia yang bisa robek jika kita membiarkan stigma bergerak lebih cepat daripada edukasi,” ujarnya.
Ia memaparkan tiga langkah strategis menuju target Three Zero 2030—tanpa infeksi baru, tanpa kematian akibat AIDS, dan tanpa stigma:
1. Pencegahan berbasis kesadaran
Edukasi harus hadir di semua ruang sosial dengan pendekatan humanis.
2. Deteksi dini dengan empati
Tes HIV harus dipandang sebagai tindakan keberanian, bukan rasa malu.
3. Pengobatan tanpa meninggalkan pasien
Layanan harus berkelanjutan dan memastikan pasien mendapatkan pendampingan.
Menurutnya, kolaborasi pentahelix—pemerintah, akademisi, komunitas, sektor usaha, dan media—menjadi kunci keberhasilan Bandung dalam menekan HIV/AIDS.
“Ketika semua bergerak bersama, Bandung tidak hanya melawan virus. Bandung sedang menjaga manusia,” tegas Agung.
Sementara itu, Plt Kabid P2P Dinas Kesehatan Bandung, Dadan Mulyana Kosasih, menyampaikan data terkini mengenai kondisi HIV di kota tersebut.
Hingga saat ini terdapat 13.000 kasus kumulatif, dengan 10.000 pasien masih hidup dan 6.700 di antaranya telah mendapatkan terapi ARV.
Setiap tahun, ditemukan 500 hingga 700 kasus baru, sementara tingkat temuan melalui tes mencapai 1,04 persen dari total 91.000 pemeriksaan.
Namun, cakupan tes pada ibu hamil masih menjadi pekerjaan rumah besar.
“Ada 40 persen ibu hamil yang belum dites. Ini berisiko penularan ke bayi. Ini pekerjaan rumah kita bersama,” kata Dadan.
Untuk memperluas akses, Pemkot Bandung menyediakan layanan tes dan pengobatan melalui 80 Puskesmas, 31 rumah sakit, 8 klinik HIV, serta layanan di Lapas dan Rutan.
“Silakan datang ke Puskesmas terdekat. Gratis, aman, dan rahasia,” ujarnya.
Program Tebar Cinta Akhiri AIDS yang digagas Baznas Kota Bandung hadir untuk memberikan dukungan moral, spiritual, hingga material bagi para penyintas HIV/AIDS. Program ini juga menyasar edukasi publik, bantuan terapi, serta penguatan ekonomi bagi penyintas dan keluarganya.
Gerakan ini diyakini menjadi jembatan harapan bagi masyarakat yang masih berjuang agar tidak menjalani proses penyembuhan sendirian.
“AIDS dapat diakhiri. Tapi stigma harus dihentikan lebih dulu,” tegas Dadan.
Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian yang terus dibangun berbagai pihak, Kota Bandung optimistis dapat berkontribusi pada tercapainya target Three Zero 2030. (R)
beritaTerkait
komentar