Kupang (buseronline.com) - Kabar menggembirakan datang dari RSUP Ben Mboi Kupang. Sabina Ndeok (67), pasien aneurisma asal Nusa Tenggara Timur yang sempat dikira meninggal oleh keluarganya karena tidak memberikan respons saat dirujuk, kini telah sadar dan dapat berkomunikasi dengan baik setelah menjalani operasi coiling pada 14 November 2025.
Sabina merupakan satu dari tiga pasien yang menjalani rangkaian operasi bedah saraf kompleks—meliputi tindakan clipping, coiling, dan bypass pembuluh darah otak—yang dilakukan tim gabungan dari RS Pusat Otak Nasional (RS PON), RSUP Prof dr IGNG Ngoerah Bali, dan RSUP Ben Mboi Kupang. Ketiga operasi berlangsung lancar dan seluruh pasien dilaporkan dalam kondisi stabil.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, berkesempatan berbincang langsung dengan para pasien pascaoperasi melalui Zoom. Kepada Sabina, Menkes menanyakan kondisi terbarunya.
“Mama sakit apa?” tanya Menkes Budi.
“Sakit kepala, Pak,” jawab Sabina dengan jelas.
Sebelumnya, keluarga Sabina sempat berduka karena mengira ia telah meninggal akibat tidak memberikan respons sepanjang perjalanan rujukan. Namun pascaoperasi, kondisinya berangsur membaik. Sabina mampu membuka mata, menjawab pertanyaan, dan menunjukkan respons normal—perkembangan signifikan yang disambut positif oleh Menkes.
Dalam kesempatan tersebut, Menkes juga memberikan edukasi mengenai pola makan dan gaya hidup sehat untuk mencegah komplikasi lanjutan setelah operasi pembuluh darah otak.
“Jangan makan yang manis, yang berlemak, atau yang asin. Makan yang direbus-rebus ya,” pesan Menkes Budi.
“Iya, Pak,” jawab Sabina sambil tersenyum.
Menkes juga menganjurkan agar Sabina tetap aktif bergerak setelah pulih, seperti berjalan kaki atau menaiki tangga secara perlahan, demi mempercepat proses pemulihan.
Keberhasilan operasi ini menjadi capaian penting bagi pengembangan layanan bedah saraf di Provinsi Nusa Tenggara Timur. RSUP Ben Mboi kini mampu menangani kasus aneurisma dan gangguan pembuluh darah otak tanpa merujuk pasien ke luar daerah, terutama ke Jawa atau Bali. Hal ini memangkas waktu penanganan sekaligus membuka akses layanan kesehatan yang lebih cepat dan berkualitas bagi masyarakat NTT.
Menkes Budi menegaskan bahwa keberhasilan tersebut harus dikembangkan lebih jauh. Ia meminta rumah sakit menjaga ketersediaan dokter spesialis dan tenaga terlatih, serta memastikan fasilitas pendukung tetap optimal agar layanan serupa dapat dilakukan lebih banyak di masa mendatang.
“Layanan seperti ini harus berkesinambungan agar pasien seperti Mama Sabina dapat tertangani lebih cepat dan lebih banyak,” tegasnya.
Keberhasilan ini menjadi bukti meningkatnya kapasitas layanan kesehatan di kawasan timur Indonesia serta harapan baru bagi pasien dengan kasus bedah saraf kompleks. (R)
beritaTerkait
komentar