Senin, 06 April 2026

Uji Klinis Fase 1 Vaksin TBC Inhalasi Pertama di Dunia Resmi Dimulai di Indonesia

EM Bukit MKes - Selasa, 18 November 2025 06:19 WIB
Uji Klinis Fase 1 Vaksin TBC Inhalasi Pertama di Dunia Resmi Dimulai di Indonesia
Wakil Menteri Kesehatan RI dr Benny bersama jajaran perwakilan rumah sakit, lembaga riset, dan mitra industri berpose seusai meninjau pelaksanaan uji klinis fase 1 vaksin TBC inhalasi di RS Islam Jakarta, Kamis (13/11/2025). (Dok/Kemenkes)
Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah Indonesia resmi memulai uji klinis fase 1 vaksin Tuberkulosis (TBC) berbasis inhalasi, menjadi yang pertama di dunia. Wakil Menteri Kesehatan RI, dr Benjamin Paulus Octavianus (dr Benny), menyebut langkah ini sebagai bagian dari program nasional pemberantasan TBC yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto.

“Pemberantasan TBC adalah program hasil terbaik cepat dari Presiden Prabowo yang harus segera direalisasikan,” ujar dr Benny saat meninjau pelaksanaan uji klinis di RS Islam Jakarta, Kamis.

Berbeda dengan vaksin konvensional yang diberikan melalui suntikan, vaksin TBC inhalasi diberikan dalam bentuk uap halus yang dihirup pasien.

Penelitian ini dipimpin oleh Prof Erlina Burhan dan melibatkan berbagai institusi, termasuk RS Persahabatan, RS Islam Cempaka Putih, Etana, serta CanSino Incorporation dari Tiongkok.

Prof Erlina menjelaskan, uji klinis ini telah melalui proses panjang sebelum memasuki tahap fase 1. Setelah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik RS Persahabatan pada April, Komite Etik RS Islam Cempaka Putih pada Juli, dan izin Badan POM pada Mei 2025, uji klinis akhirnya resmi dimulai.

“Tujuan utamanya adalah mengevaluasi keamanan dan kemampuan imunogenisitas vaksin pada individu dewasa sehat berusia 18–49 tahun,” jelas Prof Erlina.

Sebanyak 36 sukarelawan berpartisipasi, terbagi dalam dua kelompok dosis berbeda. Rekrutmen dilakukan di RS Islam Cempaka Putih, sementara tindakan medis lanjutan, termasuk Bronchoalveolar Lavage Fluid (BALF), dilaksanakan di RS Persahabatan yang memiliki fasilitas bronkoskopi.

Metode inhalasi ini memungkinkan vaksin langsung masuk ke sistem pernapasan dan menstimulasi kekebalan lokal di paru-paru. Para peserta akan dipantau pada hari ke-28, ke-90, dan ke-180 untuk memastikan respons imun dan keamanan vaksin.

“Vaksin TBC inhalasi ini akan menjadi terobosan besar dalam upaya pemberantasan tuberkulosis di Indonesia dan dunia,” kata Prof Erlina.

dr Benny menambahkan, kebutuhan anggaran untuk program pemberantasan TBC secara nasional diperkirakan mencapai Rp10–20 T, termasuk dukungan sosial bagi pasien dari keluarga miskin.

“Kami tidak hanya mengobati pasien TBC, tapi juga membantu renovasi rumah pasien miskin serta pemberian makanan bergizi melalui Kementerian Sosial dan Kementerian Tenaga Kerja,” ujarnya.

Pemerintah menargetkan penurunan kasus TBC dari 380 menjadi 65 per 100 ribu penduduk, agar Indonesia sejajar dengan negara maju dalam pengendalian penyakit ini.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan vaksin ini.

“Bukti dukungan kami berupa persetujuan pelaksanaan uji klinis fase 1 yang sudah dikeluarkan,” ujar Taruna.

Ia menambahkan, setelah fase 1 dinyatakan aman, BPOM akan memproses izin fase 2 dan 3 untuk menentukan dosis serta efikasi vaksin. “Saya yakin, berdasarkan insting saya sebagai ahli farmakologi, insya Allah ini sukses,” tegasnya.

Dengan percepatan uji klinis vaksin TBC inhalasi, pemerintah berharap Indonesia dapat menekan kasus TBC secara signifikan dan mencapai target bebas TBC pada 2030. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru