Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmen jangka panjangnya untuk mendukung upaya eliminasi tuberkulosis (TBC) di Indonesia.
Melalui Department of State dan Kedutaan Besar AS di Jakarta, Senin, AS mengumumkan potensi tambahan pendanaan sebesar USD 40 juta atau sekitar Rp620 M untuk memperkuat program kesehatan, termasuk penanggulangan TBC di Tanah Air.
Pendanaan tambahan ini akan melanjutkan berbagai inisiatif yang sebelumnya telah dijalankan, termasuk program TBC yang didukung USAID di bawah payung US–Indonesia Bilateral Development Cooperation Fund (BDCF) yang dikoordinasikan oleh Bappenas.
Program TBC akan fokus pada kegiatan penyelamatan jiwa (life-saving programs), mencakup peningkatan deteksi dini, pengobatan, serta pengawasan kasus TBC di beberapa wilayah di Indonesia. Sebelumnya, total komitmen USAID untuk sektor kesehatan Indonesia melalui Kementerian Kesehatan mencapai USD 283 juta untuk periode 2021–2026.
Selain dana tambahan tersebut, terdapat sisa alokasi sekitar USD 99,2 juta di bawah skema Grant Implementing Agreement antara USAID dan Kementerian Kesehatan yang masih berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung berbagai inisiatif kesehatan, termasuk program TBC.
Tim ekonomi Kedutaan Besar AS menjelaskan bahwa perpanjangan kerja sama ini menandai fase transisi menuju kebijakan pendanaan baru di bawah The America First Global Health Strategy, yang merupakan bagian dari reformasi US Global Health Programs. Strategi ini berfokus pada tiga pilar utama: making America safer, stronger, and more prosperous.
Pilar Making America Safer menitikberatkan pada pemantauan dan pengendalian wabah penyakit menular di luar negeri sebelum mencapai wilayah Amerika Serikat.
Melalui perjanjian bilateral, mekanisme pendanaan diarahkan untuk memastikan bantuan dialokasikan langsung ke layanan kesehatan di garis depan, membangun sistem data yang transparan, serta memperkuat kapasitas pemerintah lokal.
Dana bantuan juga akan difokuskan pada pengadaan obat-obatan, alat diagnostik, serta mendukung kegiatan tenaga kesehatan di lapangan.
Wakil Menteri Kesehatan, dr Benjamin P Octavianus (dr Benny), menyambut baik langkah tersebut. “Kolaborasi lintas sektor dan dukungan dari mitra global seperti Pemerintah Amerika Serikat sangat penting untuk memastikan layanan TBC di daerah semakin berkualitas,” ujarnya.
Pemerintah Indonesia terus memperkuat kemandirian pembiayaan di sektor kesehatan, berbeda dengan model bantuan transaksional yang diterapkan AS di beberapa negara Afrika. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong penguatan sistem kesehatan nasional secara berkelanjutan.
Saat ini, Kedutaan Besar AS masih menunggu rancangan draft agreement dari US Department of State yang akan diajukan kepada Pemerintah Indonesia. Dokumen ini akan menjadi dasar perpanjangan resmi kerja sama bilateral hingga tahun 2027, dengan tenggat penyampaian dijadwalkan Desember 2025. Pihak Kedutaan mengantisipasi kemungkinan keterlambatan akibat potensi Federal Government Shutdown di AS.
Dengan adanya tambahan pendanaan dan perpanjangan kerja sama dari Amerika Serikat, Kementerian Kesehatan menargetkan percepatan deteksi kasus dan keberlanjutan pengobatan pasien TBC dapat semakin terjamin di seluruh wilayah Indonesia, mendukung target eliminasi TBC pada tahun 2030. (R)
beritaTerkait
komentar