Senin, 06 April 2026

Air Hujan Kini Tercemar Mikroplastik, Apa Bahayanya untuk Tubuh Manusia?

EM Bukit MKes - Senin, 03 November 2025 06:33 WIB
Air Hujan Kini Tercemar Mikroplastik, Apa Bahayanya untuk Tubuh Manusia?
Segenggam mikroplastik yang terbawa ombak dan menumpuk di tepi pantai menunjukkan tingkat pencemaran plastik yang kian mengkhawatirkan. (Dok/Kemenkes)
Jakarta (buseronline.com) - Fenomena baru yang mengkhawatirkan terungkap dari hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peneliti menemukan bahwa mikroplastik kini tidak hanya mencemari laut atau makanan, tetapi juga terkandung dalam air hujan yang turun di wilayah Jakarta.

Temuan ini memperlihatkan betapa partikel plastik berukuran sangat kecil telah menyebar luas di lingkungan dan menjadi bagian dari siklus atmosfer.

Menurut hasil penelitian, mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter hingga satu mikrometer. Karena ukurannya sangat kecil dan sulit terurai, partikel ini mampu bertahan lama di udara, berpindah antar lapisan atmosfer, kemudian turun kembali ke bumi bersama hujan.

Peneliti BRIN menjelaskan, terdapat dua jenis mikroplastik yang umum ditemukan:

1. Mikroplastik primer, yaitu partikel yang sejak awal berukuran sangat kecil — misalnya microbeads dalam produk kosmetik dan pembersih wajah.

2. Mikroplastik sekunder, yang berasal dari pecahan benda plastik berukuran besar seperti kantong plastik, botol air mineral, hingga jaring nelayan.

“Temuan ini menunjukkan bahwa plastik yang rusak di darat atau laut bisa terangkat ke udara, terbawa angin, lalu akhirnya turun kembali bersama air hujan,” jelas tim peneliti BRIN.

Menanggapi hal ini, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan RI, Aji Muhawarman, menegaskan bahwa keberadaan mikroplastik di air hujan tidak serta-merta membuat air hujan berbahaya secara langsung bagi kesehatan.

“Fenomena ini perlu diwaspadai, bukan ditakuti. Ini menjadi sinyal bahwa partikel plastik sudah tersebar sangat luas di sekitar kita,” ujar Aji.

Menurut Aji, manusia dapat terpapar mikroplastik melalui dua jalur utama yaitu makanan dan minuman, seperti air kemasan, garam, dan makanan laut, serta udara yang mengandung serat sintetis dari pakaian atau debu perkotaan.

Sejumlah penelitian menunjukkan, paparan jangka panjang dalam jumlah besar dapat memicu peradangan jaringan tubuh. Selain itu, bahan kimia berbahaya yang menempel pada partikel plastik seperti bisphenol A (BPA) dan phthalates berpotensi mengganggu sistem hormon, reproduksi, dan perkembangan janin.

Namun demikian, belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa mikroplastik secara langsung menyebabkan penyakit tertentu. Para ahli masih terus meneliti tingkat paparan dan dampaknya terhadap populasi manusia.

Sebagai upaya pencegahan, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan lingkungan, serta tidak membakar sampah plastik karena dapat melepaskan partikel mikroplastik ke udara.

“Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika udara kering atau setelah hujan. Ini bukan karena air hujannya berbahaya, tetapi untuk mengurangi paparan debu dan polusi yang mungkin mengandung mikroplastik,” tambah Aji.

Ia juga mendorong masyarakat untuk melakukan langkah sederhana seperti membawa botol minum isi ulang, menggunakan tas belanja ramah lingkungan, serta memilah sampah plastik dari rumah tangga.

Menurutnya, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari dapat berdampak besar terhadap keberlanjutan lingkungan.

“Setiap langkah kecil masyarakat akan membantu menekan jumlah plastik di lingkungan dan mencegah terbentuknya lebih banyak mikroplastik di masa depan,” tutup Aji. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru