Selasa, 07 April 2026

Pemkot Bandung Bentuk Warga Peduli AIDS untuk Tekan Stigma dan Penularan HIV

EM Bukit MKes - Sabtu, 01 November 2025 06:26 WIB
Pemkot Bandung Bentuk Warga Peduli AIDS untuk Tekan Stigma dan Penularan HIV
Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung Maya Verasandi memberikan sambutan pada kegiatan pelatihan Forum Warga Peduli AIDS (WPA) di Aula Masjid Agung Al Ukhuwah, Bandung, Rabu (29/10/2025). (Dok/Diskominfo Bandung)
Bandung (buseronline.com) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus berupaya menekan penularan HIV/AIDS dengan pendekatan yang lebih personal dan humanis. Upaya tersebut dilakukan melalui pembentukan dan pelatihan Forum Warga Peduli AIDS (WPA), yang bertujuan membangun kesadaran, komunikasi empatik, serta pendampingan langsung kepada masyarakat.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Menurutnya, langkah edukatif dan komunikatif secara langsung akan lebih efektif dibandingkan pendekatan formal semata.

“Pencegahan penularan HIV harus dilakukan lebih dekat dengan masyarakat, langsung menyentuh secara personal,” ujar Farhan saat membuka kegiatan Forum Warga Peduli AIDS (WPA) di Aula Masjid Agung Al Ukhuwah, Rabu.

Farhan mengakui bahwa hingga kini masih terdapat stigma negatif terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHIV/ODHA), yang kerap membuat mereka enggan terbuka terkait kondisi kesehatannya.

“Suka atau tidak, stigma itu masih ada. Banyak yang memilih menyembunyikan statusnya karena takut dikucilkan, malu, atau alasan psikologis lainnya,” ungkapnya.

Untuk itu, Pemkot Bandung bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung membentuk WPA di berbagai tingkatan mulai dari kota, kecamatan, hingga kelurahan.

Melalui forum ini, para kader WPA dilatih agar mampu memberikan edukasi, melakukan komunikasi empatik, serta menjadi pendamping bagi masyarakat dengan pendekatan yang tidak menghakimi.

“WPA diisi oleh orang-orang yang punya kesadaran bahwa HIV ini ancaman kesehatan serius, dan mereka punya komitmen untuk mencegah serta menanggulanginya,” jelas Farhan.
“Pendekatan dari orang ke orang jauh lebih efektif menjangkau mereka yang hidup dengan HIV dibanding hanya lewat lembaga.”

Farhan juga mengingatkan pentingnya kemampuan komunikasi bagi para kader WPA agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam berinteraksi dengan ODHIV/ODHA.

“Gunakan bahasa yang tidak merendahkan dan tidak mengucilkan. Kadang niat baik bisa salah dimaknai kalau cara bicara kita keliru,” pesannya.

Ia turut memberikan apresiasi kepada KPA Kota Bandung atas dedikasinya dalam menjadi garda terdepan penanggulangan HIV/AIDS di Kota Bandung.

“Inisiatif membangun jejaring WPA ini sangat strategis dan harus terus dilanjutkan. Pemerintah Kota Bandung sangat mendukung,” kata Farhan.

“Karena sampai sekarang belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV secara tuntas, maka pencegahan dan pendampingan harus terus berjalan.”

Sementara itu, Kepala Sekretariat KPA Kota Bandung, Maya Verasandi, menjelaskan bahwa pelatihan WPA merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat. Tujuannya untuk meningkatkan kapasitas kader dalam melakukan edukasi dan advokasi di tingkat kelurahan.

“Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas para kader WPA, menyegarkan kembali pemahaman tentang HIV, dan membentuk kader-kader yang lebih aktif,” kata Maya.

“Kami ingin mengoptimalkan peran kelurahan sebagai ujung tombak edukasi masyarakat, serta menumbuhkan lingkungan sosial yang peduli dan bebas stigma.”

Pelatihan ini diikuti oleh 151 Ketua WPA kelurahan se-Kota Bandung, yang sebagian besar merupakan istri lurah atau Ketua TP PKK Kelurahan. Kegiatan berlangsung selama dua hari dan menjadi langkah konkret dalam membangun jaringan WPA yang kuat di seluruh wilayah kota.

“Lewat kegiatan ini, kita berharap warga peduli AIDS bisa memberikan edukasi, pendampingan, dan dukungan kepada masyarakat serta ODHIV/ODHA di lingkungan kita,” tambah Maya.

Program WPA juga menjadi bagian dari komitmen Pemkot Bandung dalam mewujudkan target “Bandung Zero 2030” yaitu tidak ada infeksi baru, tidak ada kematian akibat HIV, dan tidak ada stigma maupun diskriminasi.

Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan KPA, diharapkan Kota Bandung dapat menjadi kota yang sehat, inklusif, dan bebas dari stigma terhadap HIV/AIDS. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru