Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Prof Dante Saksono Harbuwono menegaskan pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini untuk mencegah penyakit kronis dan menurunkan angka kematian akibat penyakit tidak menular.
Hal itu disampaikan dalam acara temu media membahas program-program prioritas Presiden Prabowo Subianto, Jumat, di Jakarta.
Menurut Prof Dante, pembiayaan kesehatan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, selalu mengalami inflasi yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional (GDP).
“Inflasi kesehatan selalu meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi. Ini terjadi di semua negara, dan tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan usia harapan hidup,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, Prof Dante menyebut, di Amerika Serikat biaya kesehatan per individu mencapai 11.000 dolar AS per tahun dengan angka harapan hidup 78 tahun. Di Jepang, pembiayaan 4.400 dolar AS per individu menghasilkan harapan hidup hingga 84 tahun.
“Di Indonesia, pembiayaan kesehatan per individu baru sekitar 150 dolar per tahun, dengan angka harapan hidup 71 tahun. Artinya, kita harus lebih efisien dan cerdas dalam menggunakan pembiayaan kesehatan agar bisa memperpanjang usia harapan hidup,” jelasnya.
Menurut Dante, kunci efisiensi tersebut terletak pada deteksi dini terhadap penyakit penyebab kematian tertinggi seperti jantung, stroke, diabetes, dan hipertensi.
“Caranya sederhana: lakukan pemeriksaan kesehatan sebelum komplikasi terjadi. Itulah dasar dari inisiatif Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas oleh Bapak Presiden,” tutur Wamenkes.
Hingga pertengahan Oktober 2025, program Cek Kesehatan Gratis telah mencatat 44.910.083 pendaftar, dengan 41.899.205 orang hadir dan mendapatkan pelayanan di seluruh Indonesia.
“Angka ini luar biasa. Lebih dari 41 juta masyarakat sudah mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan dasar secara gratis. Ini menunjukkan gerakan pencegahan penyakit sudah mulai menjadi budaya,” kata Prof Dante.
Dari hasil pelaksanaan program CKG di berbagai daerah, Kementerian Kesehatan menemukan sejumlah temuan penting di tiap kelompok usia. Pada bayi baru lahir, penyebab kematian tertinggi adalah berat badan lahir rendah. Pada anak usia sekolah, masalah utama meliputi kesehatan gigi dan kurangnya aktivitas fisik yang berujung obesitas.
“Kita menghadapi dua sisi ekstrem: di satu sisi masih ada anak-anak stunting, di sisi lain mulai muncul anak-anak obesitas, terutama di kota besar,” kata Prof Dante.
Untuk kelompok usia dewasa, sekitar sepertiga populasi mengalami obesitas baik dari berat badan maupun lingkar perut.
“Kalau lingkar perut laki-laki di atas 90 cm dan perempuan di atas 80 cm, itu artinya risiko penyakit jantung meningkat tajam. Obesitas ini menjadi faktor risiko utama penyakit tidak menular,” jelasnya.
Sementara pada kelompok lanjut usia (lansia), tekanan darah tinggi atau hipertensi menjadi temuan paling dominan.
“Sebanyak 70 persen penderita diabetes dan tiga kali lipat penderita hipertensi sebelumnya tidak tahu bahwa mereka sakit. Artinya, deteksi dini lewat Cek Kesehatan Gratis sangat efektif menemukan kasus tersembunyi,” tegasnya.
Tujuan utama program ini bukan hanya menemukan penyakit, melainkan juga mencegah masyarakat jatuh ke kondisi berat seperti stroke, gagal ginjal, atau serangan jantung yang membutuhkan biaya besar.
“Kalau kita bisa tahu lebih awal, kita bisa mencegah orang jatuh ke komplikasi berat. Ini bukan hanya menyelamatkan nyawa, tapi juga menyelamatkan pembiayaan kesehatan nasional,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Prof Dante mengajak seluruh pihak, termasuk media, untuk aktif menyosialisasikan pentingnya pemeriksaan kesehatan berkala.
“Tolong bantu sampaikan ke masyarakat bahwa cek kesehatan itu bukan untuk orang sakit, tapi supaya mereka tidak sakit. Kalau masyarakat sadar periksa sebelum sakit, angka kematian bisa turun dan Indonesia akan menjadi negara yang lebih sehat,” tutupnya. (R)
beritaTerkait
komentar