Senin, 06 April 2026

Peran Sentral Indonesia dalam Upaya Memerangi Resistensi Antimikroba

EM Bukit MKes - Rabu, 17 September 2025 04:16 WIB
Peran Sentral Indonesia dalam Upaya Memerangi Resistensi Antimikroba
Wakil Menteri Kesehatan Prof Dante Saksono Harbuwono membuka Asia Pacific Regional Conference on Antimicrobial Resistance 2025 di DoubleTree by Hilton, Jakarta, Jumat (12/9/2025). (Dok/Kemenkes)
Jakarta (buseronline.com) - Indonesia kini memegang peran penting sebagai pemimpin kawasan dalam upaya global melawan resistensi antimikroba (AMR). Hal ini ditegaskan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof Dante Saksono Harbuwono saat membuka Konferensi Internasional AMR di Jakarta, Jumat.

Menurut Prof Dante, AMR merupakan ancaman serius yang tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi global.

“Masalah antimikroba adalah komitmen besar saya. Pada 2019, tercatat 1,27 juta kematian di dunia akibat AMR,” ujarnya.

Di Indonesia, data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) tahun 2021 menunjukkan terdapat sekitar 36.500 kematian yang dapat diatribusikan pada AMR, serta 147.000 kematian yang terkait dengan AMR.

Kematian yang “dapat diatribusikan” adalah yang bisa dicegah apabila infeksi tidak resisten terhadap obat, sedangkan kematian yang “terkait” mengacu pada kematian yang seharusnya tidak terjadi bila infeksi dapat dicegah sepenuhnya.

“AMR juga membawa dampak ekonomi yang sangat besar, diperkirakan mencapai 3,4 triliun dolar pada 2030,” tambah Prof Dante.

Pemerintah Indonesia, lanjutnya, bersama WHO dan ASEAN, berkomitmen memperkuat layanan kesehatan primer, meningkatkan akses terhadap obat yang efektif, serta memperluas kemitraan lintas sektor untuk menekan laju resistensi antimikroba.

Direktur ReAct Asia Pacific, Dr SS Lal, menilai Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan kuat di kawasan, meski penggunaan antibiotik yang tidak tepat masih menjadi persoalan serius.

“Indonesia telah menjadi pemimpin dalam perjuangan melawan AMR. Masih ada dokter yang meresepkan antibiotik tidak tepat. Konferensi ini menjadi wadah penting untuk memperkuat aksi bersama,” katanya.

Hal senada disampaikan Direktur ReAct Eropa, Anna Sjoblom, yang menilai pengalaman Indonesia dalam mencegah resistensi antimikroba bisa menjadi contoh global.

“Merupakan suatu kehormatan besar hadir di sini bersama mitra dari Indonesia. Kolaborasi lintas sektor di kawasan ini sangat penting, dan pengalaman Indonesia dapat menjadi inspirasi bagi dunia,” ujarnya.

Prof Dante menegaskan, melalui konferensi ini, Indonesia menegaskan diri bukan hanya sebagai negara terdampak, tetapi juga sebagai penggerak solusi global. Dukungan WHO, ASEAN, dan jejaring internasional ReAct diharapkan mampu memperlambat laju resistensi antimikroba serta melindungi generasi mendatang dari ancaman kesehatan global.

Sebagai informasi, ReAct adalah jaringan independen internasional pertama yang fokus pada kompleksitas resistensi antibiotik serta faktor pemicunya, dan berperan sebagai katalis global yang mendorong keterlibatan berbagai organisasi, individu, dan pemangku kepentingan dalam menangani isu ini. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
Tags
WHO
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
komentar
beritaTerbaru