Selasa, 07 April 2026

Menkes: Ancaman Kesehatan Bisa Lebih Mematikan daripada Perang, Biosecurity Harus Jadi Benteng Baru

EM Bukit MKes - Jumat, 22 Agustus 2025 07:12 WIB
Menkes: Ancaman Kesehatan Bisa Lebih Mematikan daripada Perang, Biosecurity Harus Jadi Benteng Baru
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bersama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin berfoto bersama prajurit Yonif TP 843 Patriot Yudha Vikasa usai meninjau Marshall Area di Cibitung, Kabupaten Bekasi, Rabu (20/8/2025). (Dok/Kemenkes)
Bekasi (buseronline.com) - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa isu kesehatan kini harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem pertahanan nasional. Menurutnya, ancaman biosecurity, baik dari pandemi, penyakit tidak menular, hingga bencana alam, justru lebih berbahaya dibandingkan perang bersenjata.

“Masalah kesehatan itu merupakan ancaman yang sangat besar bagi keamanan bangsa,” ujar Menkes Budi saat mendampingi Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam kunjungan ke Marshall Area Yonif TP 843 Patriot Yudha Vikasa, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Rabu.

Budi menekankan, pandemi COVID-19 menjadi pelajaran berharga bahwa sektor kesehatan tidak bisa berdiri sendiri. Keberhasilan vaksinasi nasional bagi 270 juta penduduk hanya tercapai berkat dukungan lintas sektor, termasuk peran TNI.

“Januari 2021 mulai vaksinasi COVID-19, tiga bulan angkanya tidak naik-naik. Akhirnya saya minta ke Presiden agar sosialisasi tidak bisa dilakukan sendiri, tapi butuh lintas sektor,” jelasnya.

Menkes juga menyinggung sejarah untuk menunjukkan betapa besar dampak ancaman kesehatan. Menurutnya, jumlah korban jiwa akibat penyakit jauh lebih banyak dibandingkan tentara yang gugur di medan perang.

“Perang Dunia II menewaskan puluhan juta manusia. Ada nggak yang lebih besar dari itu? Ada, yaitu perang dengan patogen,” tegasnya.

Budi menilai, paradigma perang modern kini tidak lagi semata-mata fisik atau militeristik, melainkan juga mencakup dimensi ekonomi, informasi, kesehatan, dan biosecurity. Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan TNI dalam membangun pertahanan kesehatan nasional.

“Kalau boleh saya dilibatkan untuk membangun pertahanan kesehatan ini. Programnya bagaimana membangun konsep ketahanan dari sisi biosecurity, baik militeristik maupun non-militeristik,” ungkapnya.

Indonesia, kata Budi, termasuk negara rawan bencana alam seperti banjir, gempa, dan longsor. Dalam kondisi darurat, TNI merupakan institusi yang paling cepat merespons. Untuk itu, Kemenkes bersama TNI telah membentuk Emergency Medical Team (EMT) guna menghadapi situasi bencana maupun ancaman non-militer seperti pandemi.

Selain EMT, ia juga menilai perlunya pasukan cadangan kesehatan yang siap diterjunkan ketika krisis kesehatan terjadi, sebagaimana saat pandemi COVID-19.

Budi menegaskan, pembangunan ketahanan kesehatan membutuhkan kerja sama erat antara pusat dan daerah. Ada tiga fungsi utama yang harus diperkuat, yakni:

1. Keamanan menghadapi pandemi

2. Keamanan menghadapi bencana alam

3. Keamanan teritorial untuk melindungi soft power bangsa.

“Mari kita bersama-sama menjaga keamanan dan kesehatan rakyat Indonesia dari ancaman musuh yang tidak terlihat seperti COVID-19,” tutup Menkes. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru