Jumat, 10 April 2026

Bumil Wajib Tahu: Pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan untuk Cegah Stunting

Selasa, 12 Agustus 2025 12:30 WIB
Bumil Wajib Tahu: Pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan untuk Cegah Stunting
Kader posyandu mengukur tinggi badan balita saat pemantauan tumbuh kembang di Kota Bandung, Jumat (8/8/2025). (Dok/Diskominfo Bandung)
Bandung (buseronline.com) - Masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) disebut sebagai “periode emas” yang sangat menentukan masa depan anak. Periode ini dimulai sejak masa kehamilan selama 270 hari hingga anak berusia dua tahun atau 730 hari.

Pada fase tersebut, pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak berlangsung sangat cepat dan tidak dapat diulang kembali. Karena itu, perhatian khusus pada periode ini menjadi kunci pencegahan stunting.

Plt Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Dewi Primasari, menegaskan bahwa gizi cukup, ASI eksklusif, dan kesehatan ibu serta anak selama 1.000 HPK sangat mempengaruhi kualitas tumbuh kembang.

“Kalau di masa ini anak tidak dapat gizi cukup, tidak diberi ASI eksklusif, atau sering sakit, dampaknya bisa panjang. Anak bisa tumbuh lebih pendek, lambat berpikir, bahkan kesulitan belajar di kemudian hari,” ujar Dewi saat Talkshow Radio Sonata bersama PRFM Bandung, Jumat.

Dinas Kesehatan Kota Bandung menjalankan berbagai program, mulai dari edukasi ibu hamil, pemberian suplemen, imunisasi lengkap, hingga pemantauan tumbuh kembang balita. Langkah ini bertujuan memastikan anak mendapatkan fondasi kesehatan yang kuat sejak awal kehidupan.

Dewi menjelaskan, stunting umumnya disebabkan kurangnya asupan gizi sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Banyak ibu hamil belum memahami pentingnya konsumsi protein hewani, sayur, dan vitamin selama masa kehamilan.

Selain itu, bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif selama enam bulan pertama lebih rentan mengalami stunting. MP-ASI yang kurang tepat, ditambah lingkungan yang tidak bersih, dapat menghambat penyerapan gizi karena anak rentan terkena penyakit.

“Infeksi berulang seperti diare, ISPA, atau TBC sering terjadi di daerah padat penduduk. Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan perilaku hidup bersih sehat sama pentingnya dengan pemberian gizi,” jelas Dewi.

Tenaga kesehatan menjadi garda terdepan dalam intervensi stunting sejak dini, mulai dari pemeriksaan rutin ibu hamil, pemberian tablet tambah darah dan vitamin, hingga memastikan persalinan aman. Setelah anak lahir, kader posyandu memantau tumbuh kembang balita setiap bulan, memberikan imunisasi, vitamin A, dan makanan tambahan sesuai kebutuhan.

“Kalau ada balita yang berat badannya tidak naik, langsung kita intervensi dengan perbaikan gizi. Prinsipnya, kita tidak menunggu sampai terlambat,” tegas Dewi.

Tak hanya itu, penyuluhan juga diberikan kepada remaja putri dan calon pengantin. Tujuannya, generasi mendatang lebih siap secara kesehatan reproduksi sehingga dapat melahirkan anak sehat dan bebas stunting.

“Mencegah stunting itu bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tapi tugas kita semua. Karena masa depan anak-anak adalah masa depan kita bersama,” tutup Dewi. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
Momen HUT ke-80 TNI AU, Pesawat Presiden Prabowo Dikawal Enam Jet Tempur
PMI Siap Salurkan Bantuan untuk Warga Iran
Pertamina Fasilitasi 1.346 Sertifikasi UMKM, Perkuat Daya Saing dan Akses Pasar
Pertamina Borong PROPER 2026, Sabet 14 Emas dan 108 Hijau
Jabar Bangun PSEL di Sarimukti dan Kayumanis, Sampah Diolah Jadi Listrik
Bupati Taput Tegaskan Disiplin ASN dan Optimalisasi Aset Daerah
komentar
beritaTerbaru