Jumat, 10 April 2026

Tingkat Kematian Jemaah Haji 2025 Capai 298 Orang, Kemenkes Tekankan Pentingnya Persiapan Sejak Dini

Rabu, 18 Juni 2025 07:10 WIB
Tingkat Kematian Jemaah Haji 2025 Capai 298 Orang, Kemenkes Tekankan Pentingnya Persiapan Sejak Dini
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes RI, Liliek Marhaendro Susilo, bersama tim tenaga kesehatan haji Indonesia berfoto bersama usai kegiatan edukasi kesehatan bagi jemaah haji di Hotel 502, Arab Saudi.
Temanggung (buseronline.com) - Angka kematian jemaah haji kembali menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Hingga hari ke-45 pelaksanaan ibadah haji 1446H/2025M, tercatat sebanyak 298 jemaah telah wafat, menurut data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Kesehatan (Siskohatkes) per 15 Juni 2025, pukul 16.00 WAS.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menegaskan pentingnya persiapan kesehatan jemaah sejak dini, bahkan sejak jemaah memperoleh nomor porsi haji.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Marhaendro Susilo dalam kegiatan Bincang Santai dengan Jemaah di Masjid Hotel 502, menekankan bahwa setiap calon jemaah harus segera mengadopsi pola hidup sehat.

“Ketika seseorang sudah mendapatkan nomor porsi hajinya, secara otomatis sudah menjadi jemaah haji. Oleh karena itu, jauh-jauh hari harus mulai mempersiapkan diri dengan gaya hidup sehat, olahraga teratur, makan bergizi, dan istirahat yang cukup,” ujar Liliek.

Ia menjelaskan bahwa ibadah haji merupakan ibadah fisik dan mental yang berat, mulai dari perjalanan domestik ke embarkasi, penerbangan panjang ke Arab Saudi, hingga pelaksanaan ibadah di tanah suci yang melelahkan.

Menurut Liliek, angka kematian jemaah terus meningkat setelah puncak haji di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina).

Setiap harinya, tercatat belasan jemaah wafat, sementara sebagian lainnya mengalami penurunan kondisi kesehatan yang menyebabkan penundaan kepulangan ke Tanah Air.

“Banyak jemaah yang batal terbang karena kondisi kesehatan menurun. Kami temukan banyak kasus kelelahan akibat aktivitas ibadah yang berlebihan,” ungkapnya.

Salah satu penyebab utama kelelahan ini adalah tingginya ritme kegiatan yang difasilitasi oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), termasuk ibadah umrah sunnah berulang kali, kewajiban Arba’in di Masjid Nabawi, serta wisata ziarah tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan dan suhu ekstrem di Makkah yang mencapai 48°C.

“Orang Arab saja tidak keluar rumah di siang hari. Kita yang dari daerah sejuk, sebaiknya ke Masjidil Haram pada malam hari dan hanya jika kondisi tubuh memang kuat,” tambah Liliek.

Kondisi tersebut tergambar dari pasien rawat inap di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah yang mengalami sesak napas dan gangguan jantung karena terlalu sering melakukan ibadah umrah.

“Ada pasien kami yang punya riwayat jantung, sudah umrah lima kali. Dia cerita, temannya bahkan umrah 20 kali. Ini sangat memprihatinkan,” tutur Liliek.

Kemenkes mengimbau agar petugas haji, KBIHU, ketua regu dan rombongan, serta sesama jemaah saling mengingatkan untuk tidak memaksakan diri dalam beribadah, demi keselamatan dan kesehatan bersama.

Dengan persiapan yang matang, edukasi berkelanjutan, dan dukungan lingkungan sekitar, pemerintah berharap angka kematian jemaah haji dapat ditekan seminimal mungkin dan pelaksanaan ibadah dapat berlangsung lancar hingga tuntas.

“Kesadaran dan tanggung jawab pribadi, didukung fasilitas yang memadai, adalah kunci keberhasilan haji yang sehat dan mabrur,” tutup Liliek. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
beritaTerkait
RSU Haji Medan Perkuat Perlindungan Tenaga Medis dalam Penanganan Campak
RSU Haji Medan dan RSJ Prof Ildrem Pastikan Tak Terapkan WFH, Layanan Tetap Normal
MBG Dongkrak Kesejahteraan Petani, NTP Tembus Rekor Tertinggi
Pertamina Lampaui Target Penurunan Emisi Awal 2026, Perkuat Komitmen Energi Bersih
Pertamina NRE-CRecTech Jajaki Pengembangan Biometanol dari Biogas di Sei Mangkei
Puncak Proyek Kokurikuler SMAN 1 Cisarua Tampilkan Kreativitas dan Inovasi Siswa
komentar
beritaTerbaru