Jumat, 10 April 2026

Kementan dan Unair Jalin Kerja Sama Kembangkan Vaksin ASF dan PMK untuk Kemandirian Nasional

Sabtu, 24 Mei 2025 07:33 WIB
Kementan dan Unair Jalin Kerja Sama Kembangkan Vaksin ASF dan PMK untuk Kemandirian Nasional
Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Kementan, Imron Suandy, menerima bibit vaksin ASF dan PMK dari Rektor Unair, Prof Mohammad Nasih, dalam ajang HITEX 2025 di Kampus C Universitas Airlangga, Surabaya, Selasa (20/5/2025).
Surabaya (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) RI melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus memperkuat ketahanan kesehatan hewan nasional dengan memperluas kerja sama lintas sektor.

Salah satu langkah strategis terbaru diwujudkan melalui kolaborasi dengan Universitas Airlangga (Unair) dalam pengembangan dan hilirisasi vaksin untuk penyakit hewan menular strategis, yakni African Swine Fever (ASF) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Kerja sama ini ditandai dengan penyerahan bibit (seed) vaksin oleh Rektor Unair, Prof Mohammad Nasih, dalam ajang Health Innovation, Technology, and Community Development Exhibition (HITEX) 2025 yang digelar di Kampus C Unair, Surabaya, Selasa.

Penyerahan bibit vaksin tersebut dilakukan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktur Hilirisasi dan Kemitraan, Sunitiyoso, sebelum secara resmi diteruskan kepada Kementerian Pertanian.

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH, Imron Suandy menerima langsung bibit vaksin tersebut dan menyerahkannya kepada dua produsen nasional, yaitu Balai Besar Veteriner Farma (Pusvetma) untuk vaksin ASF dan PT Capri, produsen vaksin swasta, untuk vaksin PMK.

“Serah terima ini menegaskan komitmen lintas kementerian dalam memperkuat kemandirian produksi vaksin hewan di Indonesia,” ujar Imron Suandy.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara Kementan, Kemdiktisaintek, dan Unair akan mempercepat ketersediaan vaksin berkualitas untuk pengendalian penyakit hewan yang berisiko tinggi terhadap sektor peternakan nasional.

Langkah ini sejalan dengan agenda besar Kementan untuk memperkuat layanan kesehatan hewan berbasis inovasi lokal. Saat ini, Indonesia masih menghadapi ancaman penyakit ASF dan PMK yang dapat mengganggu stabilitas produksi ternak.

Rektor Unair, Prof Mohammad Nasih menegaskan bahwa kontribusi perguruan tinggi melalui riset harus bisa dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

“Kami ingin hasil riset tidak berhenti di laboratorium. Ini adalah bentuk nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mendukung isu nasional seperti ketahanan pangan dan kesehatan hewan,” ujarnya.

HITEX 2025 menjadi wadah strategis untuk mempertemukan peneliti, pemerintah, dan pelaku industri dalam mendorong hilirisasi hasil riset, khususnya di sektor peternakan.

Bagi Kementan, kerja sama ini merupakan langkah penting menuju kemandirian vaksin nasional, tanpa ketergantungan pada impor, demi keberlanjutan subsektor peternakan Indonesia. (R)
Editor
: EM Bukit MKes
Tags
beritaTerkait
RSU Haji Medan Perkuat Perlindungan Tenaga Medis dalam Penanganan Campak
RSU Haji Medan dan RSJ Prof Ildrem Pastikan Tak Terapkan WFH, Layanan Tetap Normal
MBG Dongkrak Kesejahteraan Petani, NTP Tembus Rekor Tertinggi
Pertamina Lampaui Target Penurunan Emisi Awal 2026, Perkuat Komitmen Energi Bersih
Pertamina NRE-CRecTech Jajaki Pengembangan Biometanol dari Biogas di Sei Mangkei
Puncak Proyek Kokurikuler SMAN 1 Cisarua Tampilkan Kreativitas dan Inovasi Siswa
komentar
beritaTerbaru