Kamis, 05 November 2026

Kemenkes Perkuat Kolaborasi Tenaga Kesehatan Asia-Pasifik, 22 Negara Hadiri Konferensi AAAH di Bali

Rabu, 04 November 2026 11:55 WIB
Kemenkes Perkuat Kolaborasi Tenaga Kesehatan Asia-Pasifik, 22 Negara Hadiri Konferensi AAAH di Bali
Kemenkes RI bersama Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) menggelar Konferensi AAAH ke-14 di Bali, 2-5 November 2026.

Bali (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) bersama Asia Pacific Action Alliance on Human Resources for Health (AAAH) menggelar Konferensi AAAH ke-14 di Bali, 2-5 November 2026.

Dilansir dari laman Kemkes, konferensi yang melibatkan 22 negara anggota ini menjadi upaya memperkuat kerja sama regional dalam mengatasi kekurangan dan ketimpangan distribusi tenaga kesehatan di kawasan Asia-Pasifik.

Kegiatan yang mengusung tema "Membangun Tenaga Kesehatan Masa Depan: Menghubungkan Tata Kelola, Pendidikan, dan Transformasi Digital untuk Sistem Kesehatan yang Berkelanjutan" tersebut diikuti sekitar 200 peserta, mulai dari pembuat kebijakan, pendidik, profesional kesehatan, hingga mitra pembangunan.

Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, investasi pada sumber daya manusia (SDM) kesehatan harus menjadi prioritas setiap negara. Pasalnya, tenaga kesehatan yang terlatih, terampil, dan berdedikasi merupakan fondasi utama dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

"Kita memerlukan tata kelola yang lebih kuat, pendidikan kesehatan yang lebih baik, dan transformasi digital. Kita juga harus memperkuat kerja sama regional, berbagi pengetahuan, dan saling belajar dari pengalaman satu sama lain," ujar Wamenkes Benny melalui rekaman video, pada 2 November 2026.

Menurutnya, konferensi tersebut diharapkan menghasilkan gagasan praktis dan komitmen nyata dalam membangun tenaga kesehatan masa depan. Indonesia juga menyatakan kesiapan untuk memperkuat kolaborasi dengan negara-negara di kawasan guna menjawab berbagai tantangan pembangunan SDM kesehatan.

Ketua AAAH Anna Kurniati yang juga menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan mengungkapkan, tantangan sektor kesehatan semakin kompleks.

Kondisi tersebut dipengaruhi peningkatan populasi lanjut usia, tingginya beban penyakit tidak menular, munculnya penyakit infeksi baru, perubahan iklim, hingga ketimpangan global.

Bahkan, kekurangan tenaga kesehatan secara global diproyeksikan mencapai sekitar 10 juta orang pada 2030, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Anna mengajak seluruh peserta memanfaatkan konferensi selama empat hari tersebut untuk menghasilkan langkah konkret, bukan sekadar membangun jejaring dan bertukar gagasan.

"Kita perlu menindaklanjuti diskusi dan rekomendasi dengan kerja nyata untuk membangun tenaga kesehatan masa depan yang kompeten, tangguh, adil, dan berkelanjutan," tegasnya.

AAAH sendiri didirikan pada 2005 dengan 10 negara anggota. Kini, aliansi tersebut telah berkembang menjadi jaringan yang mencakup 22 negara di kawasan Asia-Pasifik.

Dalam menjalankan misinya, AAAH bekerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan.

Konferensi kali ini menitikberatkan pada tiga pilar utama, yakni penguatan kepemimpinan dan tata kelola, peningkatan kualitas pendidikan serta kesejahteraan tenaga kesehatan, dan percepatan transformasi digital.

Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat Dr Saia Ma'u Piukala menekankan bahwa kepercayaan antara tenaga kesehatan dan pasien merupakan fondasi penting dalam pelayanan kesehatan.

Karena itu, tenaga kesehatan perlu mendapatkan perlindungan, kondisi kerja yang layak, kesempatan pengembangan karier, serta dukungan terhadap kesejahteraan mereka.

Ia mengingatkan bahwa setiap pasien, ibu, dan anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan terbaik. Oleh karena itu, kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan harus terus dijaga.

Di Indonesia, pemerataan tenaga kesehatan masih menjadi tantangan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 37 persen puskesmas belum memiliki sembilan jenis tenaga kesehatan prioritas secara lengkap.

Sementara itu, sekitar 41 persen rumah sakit umum daerah kabupaten/kota belum memenuhi kualifikasi tujuh dokter spesialis dasar.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian Kesehatan memanfaatkan Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan guna memetakan distribusi dan memproyeksikan kebutuhan tenaga kesehatan.

Prioritas diberikan kepada daerah yang masih mengalami keterbatasan akses dan ketersediaan tenaga kesehatan, seperti Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

Melalui konferensi ini, AAAH menargetkan lahirnya rekomendasi kebijakan untuk memperkuat perencanaan tenaga kerja kesehatan, meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan tenaga kesehatan, serta memperluas pemanfaatan inovasi digital.

Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi acuan strategis bagi negara-negara anggota dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan, sekaligus memastikan seluruh masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemenkes Perkuat Pencegahan TBC, Cakupan Pemberian Obat di Jakarta Naik Jadi 26 Persen
Kemenkes Gencarkan Imunisasi HPV, Cegah Kanker Serviks dan Kanker Akibat Infeksi HPV
Kemenkes Perkuat Pencegahan TB, Jakarta Ditargetkan Bebas TBC pada 2030
Kemenkes Perkuat Standar Kompetensi dan Legalitas Tenaga Medis, Keselamatan Pasien Jadi Prioritas
Kemenkes Tingkatkan 66 RSUD dari Kelas D ke Kelas C, 21 Rumah Sakit Rampung Dibangun
Kemenkes Perkuat Sandbox Kesehatan, 11 Inovator Hadirkan Solusi Digital
komentar
beritaTerbaru