Selasa, 03 November 2026

Kemenkes Gencarkan Imunisasi HPV, Cegah Kanker Serviks dan Kanker Akibat Infeksi HPV

Selasa, 03 November 2026 17:50 WIB
Kemenkes Gencarkan Imunisasi HPV, Cegah Kanker Serviks dan Kanker Akibat Infeksi HPV
Kemenkes RI terus memperkuat upaya pencegahan kanker akibat infeksi HPV melalui program imunisasi dan edukasi masyarakat.

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus memperkuat upaya pencegahan kanker akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV) melalui program imunisasi dan edukasi masyarakat.

Dilansir dari laman Kemkes, langkah ini dilakukan untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat kanker serviks serta jenis kanker lainnya yang berkaitan dengan infeksi HPV.

Upaya tersebut dibahas dalam webinar bersama media dan influencer bertema "Mencegah Kesakitan dan Kematian Akibat HPV dengan Imunisasi" yang digelar secara daring, pada 29 Oktober 2026.

Kemenkes mencatat, sekitar 22.000 perempuan di Indonesia meninggal setiap tahun akibat kanker leher rahim atau kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi HPV. Sementara berdasarkan data global 2022, sekitar 95.000 laki-laki terkena kanker akibat HPV dan 44.000 di antaranya meninggal dunia.

Untuk mengantisipasi peningkatan kasus, pemerintah menyediakan imunisasi HPV gratis bagi anak perempuan dan laki-laki usia 10-11 tahun atau kelas 5 SD.

Program imunisasi bagi anak perempuan telah dilaksanakan secara nasional sejak 2023, sedangkan perluasan imunisasi bagi anak laki-laki mulai diterapkan pada 2026 di DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Bali.

Selain imunisasi, Kemenkes juga memperkuat deteksi dini melalui skrining kanker serviks bagi perempuan dewasa mulai usia 30 tahun yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Berdasarkan data Kemenkes, cakupan imunisasi HPV pada anak perempuan kelas 5 SD pada 2026 mencapai 83,5 persen. Sementara cakupan imunisasi pada anak laki-laki kelas 5 SD di tiga provinsi wilayah perluasan mencapai 88 persen.

Adapun pada 2025, cakupan imunisasi HPV dosis tunggal pada anak perempuan kelas 5 SD mencapai 90,8 persen.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman mengatakan salah satu tantangan dalam meningkatkan cakupan imunisasi adalah maraknya hoaks dan disinformasi yang berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat.

Karena itu, ia mengajak media, jurnalis, dan influencer untuk ikut berperan aktif menyampaikan informasi kesehatan yang benar dan berdasarkan bukti ilmiah.

"Imunisasi merupakan salah satu isu kesehatan yang rentan terhadap hoaks atau disinformasi. Kami mengajak rekan-rekan media, jurnalis, dan para influencer untuk tidak hanya memberitakan, tetapi juga terus aktif mengedukasi masyarakat, mengangkat fakta berbasis bukti dan meluruskan informasi-informasi yang keliru tentang imunisasi, khususnya imunisasi HPV," kata Aji.

Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Prof dr Hinky Hindra Irawan Satari, menegaskan bahwa vaksin HPV aman dan efektif karena telah melalui tahapan uji klinis sebelum digunakan dalam program imunisasi nasional.

Ia menjelaskan, sejumlah reaksi yang mungkin muncul setelah imunisasi antara lain bengkak, kemerahan, dan nyeri di lokasi suntikan, serta pusing, lemas, demam, mual, dan muntah. Namun, reaksi tersebut umumnya bersifat ringan dan dapat sembuh.

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemenkes Perkuat Pencegahan TB, Jakarta Ditargetkan Bebas TBC pada 2030
Kemenkes Perkuat Standar Kompetensi dan Legalitas Tenaga Medis, Keselamatan Pasien Jadi Prioritas
Kemenkes Tingkatkan 66 RSUD dari Kelas D ke Kelas C, 21 Rumah Sakit Rampung Dibangun
Kemenkes Perkuat Sandbox Kesehatan, 11 Inovator Hadirkan Solusi Digital
Kemenkes Gelar Cek Kesehatan Gratis bagi 175 Wartawan Senior, Temukan Kasus Hipertensi
Kemenkes dan IDI Perkuat Kolaborasi Reformasi Pembiayaan JKN dan Perlindungan Dokter
komentar
beritaTerbaru