Sabtu, 24 Oktober 2026

RSUD Bandung Kiwari Hadirkan Program Kawal Kiwari untuk Pantau Anak Berisiko Stunting

Sabtu, 24 Oktober 2026 13:00 WIB
RSUD Bandung Kiwari Hadirkan Program Kawal Kiwari untuk Pantau Anak Berisiko Stunting
RSUD Bandung Kiwari menghadirkan program Kawal Kiwari sebagai upaya memperkuat pemantauan pertumbuhan dan tindak lanjut kesehatan anak berisiko stunting secara berkelanjutan.

Bandung (buseronline.com) - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bandung Kiwari menghadirkan program Kawal Kiwari sebagai upaya memperkuat pemantauan pertumbuhan dan tindak lanjut kesehatan anak berisiko stunting secara berkelanjutan.

Dilansir dari laman Jabarprov, Direktur Utama RSUD Bandung Kiwari Arief Budiman menjelaskan bahwa program tersebut mengintegrasikan layanan klinis, pemantauan pertumbuhan, edukasi keluarga, serta tindak lanjut kesehatan anak agar pelayanan tetap berkesinambungan setelah pasien meninggalkan rumah sakit.

Menurut Arief, pemantauan kesehatan anak tidak boleh berhenti ketika anak selesai menjalani perawatan di rumah sakit. Anak yang membutuhkan intervensi harus tetap mendapatkan pendampingan dan pemantauan pertumbuhan secara berkala.

"Ketika seorang anak pulang dari rumah sakit, pelayanan mungkin telah selesai, tetapi perjalanan pertumbuhannya belum selesai. Melalui Kawal Kiwari, kami ingin memperkuat pengawalan agar anak yang membutuhkan intervensi tidak terputus dari pemantauan," ujar Arief dalam keterangan resminya, pada 21 Oktober 2026.

Program Kawal Kiwari menghadirkan dua inovasi utama, yakni Klinik Raksa Anak untuk memperkuat layanan klinis dan aplikasi Tumbuh Kiwari untuk membantu tenaga kesehatan menganalisis indikator pertumbuhan anak.

Aplikasi Tumbuh Kiwari dirancang untuk membantu tenaga kesehatan membaca kurva pertumbuhan secara terstruktur. Meski demikian, penentuan intervensi tetap dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi klinis masing-masing anak.

Arief menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari rumah sakit, Puskesmas, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), keluarga, hingga pemangku kepentingan lainnya.

Dalam pelaksanaannya, rumah sakit berperan memperkuat pemeriksaan dan penanganan klinis. Sementara itu, Puskesmas, Posyandu, dan keluarga berperan penting dalam deteksi dini, pemberian edukasi, serta pemantauan pertumbuhan anak di lingkungan tempat tinggal.

Koordinasi dengan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan kolaborasi lintas sektor juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan layanan bagi anak yang membutuhkan intervensi.

Arief menyampaikan bahwa program ini bukan merupakan solusi tunggal untuk mengatasi seluruh persoalan stunting. Namun, integrasi pelayanan klinis, pemanfaatan informasi yang tepat, dan kolaborasi berkelanjutan diharapkan dapat memperkuat pengawasan terhadap pertumbuhan anak.

"Kami tidak mengklaim bahwa satu klinik atau satu aplikasi dapat menyelesaikan seluruh persoalan stunting. Namun, kami percaya bahwa pelayanan klinis yang kuat, informasi yang digunakan secara tepat dan kolaborasi yang konsisten dapat membantu memperbaiki kesinambungan pengawalan anak," tuturnya.

Melalui pesan "Kawal Sampai Tumbuh", RSUD Bandung Kiwari menegaskan komitmennya untuk mendukung pemantauan dan pemberian intervensi sesuai kebutuhan setiap anak, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Program ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi antar layanan kesehatan dan keluarga dalam mendukung upaya pencegahan serta penanganan stunting secara berkelanjutan. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Pemkab Kendal Luncurkan Gerakan Aksi Bergizi Serentak untuk Tekan Stunting
Pemko Bandung Luncurkan Program Zero New Stunting, Fokus pada Perbaikan Sanitasi dan Lingkungan
Pemko Bandung Perkuat Layanan IGD RSUD Bandung Kiwari, Response Time Capai 99 Persen
RSUD Bandung Kiwari Perkuat Pemahaman Standar Pelayanan IGD Lewat Forum Komunikasi Publik
PKK Jateng Gencarkan Gemarikan untuk Tekan Angka Stunting
15 Balita di Bogor Timur Keluar dari Stunting Setelah Intervensi Enam Bulan
komentar
beritaTerbaru