Menurut Alfi, keberhasilan operasi sangat bergantung pada kerja sama berbagai disiplin ilmu. Stabilitas janin selama operasi menjadi salah satu faktor paling krusial.
"Pekerjaan ini bukan hanya pekerjaan bedah saraf. Semua memiliki peran yang sangat penting. Pada tindakan intrauterin, yang krusial adalah bagaimana menjaga janin tetap stabil. Apabila janin tidak stabil, operasi harus dihentikan," jelasnya.
Operasi tersebut melibatkan dokter bedah saraf, dokter fetomaternal, dokter obstetri dan ginekologi, dokter anestesi, perawat, serta tenaga penunjang lainnya.
Kolaborasi dengan Mater Mothers' Hospital, Brisbane, Australia, turut mendukung keberhasilan operasi. Maternal Fetal Medicine Dr. Glenn Radford mengatakan tindakan tersebut berjalan baik tanpa komplikasi.
"Yesterday, a historic event here in Indonesia, operating side-by-side with our friends from Harapan Kita, we performed the first surgery, and it went very well. We didn't have any complications," ujar Glenn.
Direktur Utama
RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, mengatakan rumah sakitnya ditargetkan dapat melanjutkan layanan operasi janin tersebut secara mandiri setelah tim Australia kembali ke negaranya.
"Multidisiplin kami sudah siap. Setelah ini RSAB akan melanjutkan dengan pasien-pasien berikutnya dan juga menularkan kemampuan ini ke rumah sakit-rumah sakit lain yang memiliki keunggulan di bidang fetomaternal," ujarnya.
Kementerian Kesehatan juga mendorong pengembangan layanan tersebut melalui program pengampuan agar kemampuan operasi janin dapat dikembangkan di rumah sakit lain.
Keberhasilan open fetal surgery pertama di Indonesia ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan layanan kesehatan ibu dan anak. Pemerintah berharap penguatan kompetensi tenaga kesehatan, jejaring rujukan, dan kolaborasi internasional dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan kedokteran berteknologi tinggi di dalam negeri. (R)
beritaTerkait
komentar