Ngada (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI memberikan dukungan psikososial kepada murid dan guru yang terdampak gempa bumi di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dilansir dari laman
Kemendikdasmen, upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari pemulihan pascabencana. Pemerintah menilai pemulihan tidak hanya berkaitan dengan perbaikan fasilitas pendidikan, tetapi juga kondisi mental murid dan guru yang mengalami dampak akibat gempa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu'ti mengatakan, pihaknya menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) untuk memberikan pendampingan psikologis kepada anak-anak terdampak.
"Untuk pemulihan mental, ini kan ada dua yang kami lakukan. Pertama, tadi ada teman-teman dari tim HIMPSI yang bekerja sama dengan kami untuk memberikan semangat seperti tadi yang kita lakukan. Anak-anak kita dibuat ceria, gembira," ujar Abdul Mu'ti, pada 24 Agustus 2026.
Selain HIMPSI, Kemendikdasmen juga bekerja sama dengan organisasi sosial dan perguruan tinggi dalam membantu masyarakat terdampak gempa. Berbagai kegiatan dan penyuluhan psikologi dilakukan untuk membantu anak-anak mengurangi rasa takut serta trauma akibat bencana.
Sementara itu, Ketua Divisi Program Kebencanaan Korps Relawan Bencana HIMPSI, Yuria Ekalitani mengatakan masih ditemukan murid yang mengalami kecemasan dan ketakutan setelah gempa, termasuk akibat gempa susulan.
Berdasarkan rapid assessment yang dilakukan di Kabupaten Ngada dan Nagekeo, sejumlah siswa mengalami kesulitan tidur, takut masuk ke rumah, tidak berani menutup pintu karena khawatir terjadi gempa susulan, hingga kesulitan berkonsentrasi.
"Masih kami jumpai sebagian besar siswa merasa cemas dan takut karena gempa susulan. Beberapa juga menjadi sulit tidur, takut jika masuk ke dalam rumah, tidak mau menutup pintu karena takut ada gempa susulan, sulit konsentrasi, dan beberapa dampak psikologis lainnya," jelas Yuria.
Untuk membantu anak-anak melewati kondisi tersebut, HIMPSI menggelar kegiatan Tenda Gembira. Kegiatan dilakukan melalui aktivitas bermain yang disusun secara terstruktur sehingga anak-anak dapat kembali merasa aman, nyaman, dan ceria.
Selain bermain, anak-anak juga diperkenalkan dengan teknik stabilisasi emosi. Teknik tersebut diharapkan dapat membantu mereka mengelola rasa takut dan kecemasan yang muncul setelah mengalami bencana.
Pendampingan juga diberikan kepada guru dan tenaga kependidikan. HIMPSI memberikan psikoedukasi mengenai dukungan psikologis awal serta pendampingan melalui kegiatan Supportive, Accompaniment, Psychosocial, Assistance (SAPA).
Kegiatan tersebut dilakukan dengan menyapa langsung guru terdampak sekaligus melakukan asesmen psikososial untuk mengetahui kondisi mereka setelah gempa.
Yuria mengatakan, guru perlu mendapatkan pelatihan agar memiliki kemampuan memberikan dukungan psikososial kepada siswa di lingkungan sekolah.
beritaTerkait
komentar