Kamis, 08 Oktober 2026

Menkes: Keselamatan Korban Jadi Prioritas Pascagempa NTT

Sabtu, 22 Agustus 2026 11:25 WIB
Menkes: Keselamatan Korban Jadi Prioritas Pascagempa NTT
Menkes RI Budi Gunadi Sadikin saat meninjau pelayanan kesehatan di Kabupaten Nagekeo, Selasa (18/8/2026).

Nagekeo (buseronline.com) - Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa penyelamatan nyawa korban menjadi prioritas utama pemerintah dalam penanganan pascagempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026.

Dilansir dari laman Kemkes, hal tersebut disampaikan Budi saat meninjau pelayanan kesehatan di Kabupaten Nagekeo, pada 18 Agustus 2026.

Gempa menyebabkan sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan sehingga pelayanan medis harus dilakukan dalam kondisi darurat.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, gempa tersebut menyebabkan 70 orang meninggal dunia dan 43.391 warga mengungsi di berbagai wilayah NTT.

Sementara di Kabupaten Nagekeo, sebanyak 170.669 jiwa terdampak, dengan delapan orang meninggal dunia, 13 mengalami luka berat, dan 29 lainnya luka ringan.

Dua rumah sakit utama, yaitu RS Pratama Rajad dan RS Aeramo, mengalami gangguan operasional. Selain itu, tiga bangunan puskesmas juga mengalami kerusakan.

Dalam situasi tersebut, Kementerian Kesehatan menetapkan tiga prioritas penanganan. Pertama, mempercepat pelayanan medis melalui sistem triase.

Pasien kritis akan segera dirujuk ke rumah sakit, sedangkan korban dengan luka ringan akan ditangani di puskesmas atau tenda darurat.

"Kita utamakan pasiennya terlebih dahulu, kemudian fasilitas yang rusak diperbaiki," kata Budi.

Prioritas kedua adalah memperbaiki fasilitas kesehatan yang rusak. Kemenkes menargetkan pembangunan dan renovasi dapat diselesaikan dalam waktu delapan hingga 12 bulan.

Prioritas ketiga adalah memberikan penanganan trauma psikologis kepada masyarakat. Kemenkes akan bekerja sama dengan organisasi profesi untuk menghadirkan konselor bagi warga yang mengalami trauma akibat gempa dan ketakutan terhadap gempa susulan.

Di tengah keterbatasan fasilitas, tenaga kesehatan tetap berusaha menyelamatkan nyawa pasien. Salah satunya dilakukan oleh dr Restu dan tim yang melakukan operasi sesar darurat terhadap seorang ibu setelah akses jalan dan jembatan menuju fasilitas rujukan terputus.

Operasi dilakukan di lokasi yang masih memungkinkan digunakan dengan peralatan terbatas. Tindakan tersebut berhasil menyelamatkan seorang bayi prematur dengan berat 1.500 gram. Bayi tersebut kemudian mendapatkan perawatan intensif di ruang perinatologi.

Menkes juga memastikan ketersediaan peralatan medis penting, seperti mesin anestesi dan alat kauter untuk menghentikan pendarahan, di rumah sakit lapangan Nagekeo. Langkah tersebut dilakukan agar tenaga kesehatan dapat menangani korban secara cepat dan aman selama masa tanggap darurat.

Pemerintah terus berupaya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak sekaligus memulihkan fasilitas kesehatan dan membantu pemulihan kondisi psikologis para korban gempa. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
SATUSEHAT Raih Dua Penghargaan, Perkuat Transformasi Digital Kesehatan Indonesia
Kemenkes Bekali 4.630 Dokter dan Dokter Gigi Internsip, Tekankan Lingkungan Bebas Perundungan
Kemenkes: Keselamatan Pasien Harus Dijaga Sepanjang Perjalanan Perawatan
Kemenkes Turunkan Syarat SKP Dokter dari 250 Menjadi 160
Kemenkes: Aktivitas Influenza Meningkat, Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Kemenkes Imbau Warga Tak Panic Buying Oseltamivir, Mayoritas Influenza Bisa Sembuh Sendiri
komentar
beritaTerbaru