Bandung (buseronline.com) - Imunisasi merupakan investasi kesehatan jangka panjang yang berperan penting dalam melindungi individu sekaligus membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).
Oleh karena itu, masyarakat diimbau melengkapi imunisasi sesuai jadwal sebagai upaya mewujudkan generasi yang sehat serta mendukung terwujudnya
Bandung Sehat Berdaya menuju
Bandung Utama.
Hal tersebut mengemuka dalam Sonata Talkshow bertajuk "Vaksin Melindungi, Imunisasi Menyelamatkan: Bersama Wujudkan Bandung Sehat" yang digelar, Rabu.
Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota Komisi IV DPRD Kota
Bandung, Dr dr Agung Firmansyah Sumantri SpPD KHOM MMRS FINASIM dan Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota
Bandung, dr Dadan Mulyana Kosasih SpDLP PhD.
Dalam paparannya, Agung menjelaskan bahwa vaksin merupakan produk biologis yang mengandung antigen, sedangkan imunisasi adalah proses pemberian vaksin untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu.
"Vaksin adalah produknya, sedangkan imunisasi adalah prosesnya. Manfaat vaksin akan diperoleh ketika diberikan melalui proses imunisasi," ujarnya dilansir dari laman Jabarprov.
Menurut Agung, imunisasi tidak hanya melindungi individu, tetapi juga berperan penting dalam membentuk herd immunity sehingga penyebaran penyakit dapat ditekan.
Ia menambahkan, pemberian vaksin kini dilakukan dengan pendekatan siklus kehidupan, mulai dari bayi, anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia, sesuai kebutuhan masing-masing kelompok usia.
Ia pun mengingatkan para orang tua agar memastikan anak memperoleh imunisasi lengkap sesuai jadwal dan menyimpan kartu imunisasi sebagai acuan agar tidak ada dosis yang terlewat.
"Vaksin melindungi individu, tetapi imunisasi menyelamatkan generasi. Mari lengkapi imunisasi, karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bandung dr Dadan Mulyana Kosasih mengungkapkan bahwa cakupan imunisasi di Kota Bandung hingga 2026 masih berada pada kategori menengah dan belum sepenuhnya mencapai target pemerintah.
Menurutnya, rendahnya cakupan dipengaruhi berbagai faktor, seperti maraknya hoaks dan keraguan masyarakat terhadap imunisasi, ketidaksesuaian data sasaran di lapangan, hingga tingginya mobilitas penduduk yang menyebabkan riwayat imunisasi anak belum tercatat secara optimal.
Selain itu, masih banyak layanan imunisasi yang diberikan rumah sakit maupun dokter spesialis anak yang belum dilaporkan ke dalam Sistem ASIK (Aplikasi Sehat Indonesiaku), sehingga secara administrasi belum tercatat dalam sistem nasional.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Kesehatan Kota Bandung terus mendorong seluruh fasilitas pelayanan kesehatan melaporkan setiap layanan imunisasi melalui Sistem ASIK agar data menjadi lebih akurat sebagai dasar perencanaan pembangunan kesehatan.
Di sisi lain, pemerintah juga memperluas akses pelayanan imunisasi melalui Posyandu. Dari lebih dari 2.000 Posyandu yang ada di Kota
Bandung, sekitar 1.500 di antaranya telah aktif memberikan layanan imunisasi kepada masyarakat.
Selain memperluas layanan, Dinas Kesehatan Kota Bandung juga terus menggencarkan edukasi melalui media digital, media sosial, kader kesehatan, tokoh masyarakat, hingga tokoh agama untuk menangkal hoaks dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pentingnya imunisasi.
Dadan menegaskan bahwa imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan paling efektif dan efisien karena mampu mencegah penyakit sekaligus mengurangi beban biaya pengobatan. "Biaya imunisasi jauh lebih ringan dibandingkan biaya pengobatan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah," pungkasnya. (R)
beritaTerkait
komentar