Rabu, 15 Juli 2026

Kemenkes Gandeng Takeda Bangun Ekosistem Obat Derivat Plasma Pertama di Asia Tenggara

Rabu, 15 Juli 2026 11:20 WIB
Kemenkes Gandeng Takeda Bangun Ekosistem Obat Derivat Plasma Pertama di Asia Tenggara
Ilustrasi Produksi Obat Derivat Plasma (PODP).

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI resmi menggandeng perusahaan biofarmasi global asal Jepang, Takeda, untuk membangun ekosistem Produk Obat Derivat Plasma (PODP) di Indonesia.

Dilansir dari laman Kemkes, kerja sama tersebut ditandai dengan pemberian izin fraksionasi plasma kepada Takeda dan menjadi inisiatif pembangunan ekosistem plasma hulu-hilir pertama di kawasan Asia Tenggara.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan kemitraan strategis ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam mewujudkan kemandirian dan keberlanjutan akses terhadap terapi esensial bagi masyarakat Indonesia.

"Inisiatif ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun kapabilitas layanan kesehatan yang strategis. Melalui kerja sama yang erat dengan mitra global terpercaya seperti Takeda, Indonesia akan dapat mempercepat pengembangan sistem layanan kesehatan yang lebih tangguh dan siap menghadapi masa depan," ujar Budi dalam siaran pers di Jakarta, Minggu.

Sebagai tahap awal, Takeda akan menginvestasikan dana hingga 30 juta dolar AS atau sekitar Rp539 miliar untuk pengembangan selama dua tahun. Investasi tersebut akan digunakan untuk mendirikan sejumlah bank plasma di Indonesia yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027 sebagai bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda.

Selama fasilitas manufaktur dalam negeri masih dalam tahap penilaian kelayakan, plasma yang dikumpulkan di Indonesia akan difraksionasi melalui jaringan manufaktur global Takeda dengan prioritas memenuhi kebutuhan domestik. Secara paralel, perusahaan juga tengah mengkaji pemenuhan regulasi guna membangun pabrik terapi turunan plasma berteknologi mutakhir di Indonesia.

Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya permintaan global terhadap PODP. Saat ini, Indonesia dan sebagian besar negara di kawasan ASEAN masih menghadapi tantangan dalam akses terapi akibat rendahnya angka diagnosis serta terbatasnya kesadaran masyarakat terhadap kondisi medis yang memerlukan terapi derivat plasma.

Kemitraan strategis tersebut juga melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan P Roeslani menilai kolaborasi ini merupakan investasi jangka panjang yang membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia nasional, serta penciptaan lapangan kerja baru.

"Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem layanan kesehatan, tetapi juga mendukung ambisi menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju," kata Rosan.

Sementara itu, Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, mengapresiasi perluasan kerja sama tersebut. Ia menegaskan komitmen Takeda untuk memanfaatkan keahlian global di bidang sains plasma guna mendukung tujuan layanan kesehatan jangka panjang Indonesia, termasuk membuka lapangan kerja berketerampilan tinggi bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium lokal. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemenkes Ajak Masyarakat Hapus Stigma Kusta demi Percepat Eliminasi Penyakit
Kemenkes dan Kemendes PDT Perkuat Kolaborasi Wujudkan Indonesia Sehat Hingga Desa
Kemenkes Kirim Bantuan Logistik Kesehatan untuk Korban Kebakaran TPA Jatiwaringin
Kemenkes Ungkap Tiga Temuan Kasus Meninggalnya dr Icha, Siapkan Perpres Perlindungan Nakes
Kemenkes Hormati Putusan MK yang Tolak Uji Materi UU Kesehatan
Kemenkes Selidiki Dugaan Intimidasi Terkait Wafatnya dr Icha
komentar
beritaTerbaru