Pekalongan (buseronline.com) - Pemerintah Kota (Pemko) Pekalongan resmi menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Banjir setelah tanggul di sejumlah titik jebol akibat luapan Sungai Bremi sejak Jumat (16/1/2026).
Dilansir dari Diskomdigi Jateng, penetapan status ini dilakukan untuk mempercepat penanganan bencana serta membuka akses penggunaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).
Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid mengatakan keputusan tersebut menjadi langkah penting agar pemerintah daerah memiliki ruang gerak lebih luas dalam memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi dan menangani dampak banjir secara cepat.
“Semalam saya sudah tetapkan Kota Pekalongan dalam status Tanggap Darurat,” ujar wali kota yang akrab disapa Aaf, Minggu (18/1/2026).
Menurut Aaf, tanpa peningkatan status tersebut, kemampuan pemerintah daerah dalam merespons kondisi darurat akan sangat terbatas, terutama dari sisi anggaran.
Dalam beberapa hari terakhir, permintaan bantuan datang dari berbagai pihak, mulai dari laporan ke Dinas Sosial, BPBD, hingga pesan langsung dari warga.
Dengan status tanggap darurat, Pemko berharap distribusi bantuan logistik, layanan pengungsian, dan penanganan darurat lainnya dapat dilakukan lebih cepat, terkoordinasi, dan merata.
Aaf menuturkan, banjir tidak hanya menjebolkan tanggul di wilayah Tirto, tetapi juga mengancam fasilitas vital. Salah satunya adalah trafo rumah pompa yang kini hanya berjarak sekitar 15 hingga 20 sentimeter dari genangan air. “Kami sudah berkoordinasi dengan PLN terkait kondisi ini,” ungkapnya.
Debit air yang terus meningkat akibat curah hujan tinggi dan limpasan dari wilayah sekitar membuat upaya pengendalian genangan semakin terbatas.
Lonjakan jumlah pengungsi juga menjadi salah satu alasan utama dinaikkannya status bencana.
Saat ini, tercatat sekitar 2.000 warga telah mengungsi dan jumlah tersebut masih terus bertambah. “Yang tercatat sekarang sekitar 2.000 orang, tapi ini masih terus bertambah,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan logistik, dapur umum dipusatkan di Kantor Dinas Sosial dengan produksi makanan siap saji yang terus dimaksimalkan. Selain itu, Kodim setempat juga membuka dapur umum untuk membantu memenuhi kebutuhan konsumsi warga terdampak.
Pemko Pekalongan juga berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terkait rencana modifikasi cuaca guna menurunkan intensitas hujan dalam beberapa hari ke depan.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, menyebut sejumlah wilayah terdampak genangan, antara lain Jalan Progo, Jalan Kurinci, Jalan Majapahit, Jalan Slamet, Jalan Cempaka, Jalan Truntum, Jalan Teratai, Jalan Semarang, Jalan Surabaya, Jalan Abdullah R, Jalan Blimbing, Jalan Merak, Jalan Patriot, Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Pramuka, Jalan Jlamprang, Jalan Ki Mangun Sarkoro, Jalan Patiunus, wilayah Sampangan, Pabean, Kalibaros, serta Kampung Baru Tirto.
“Dari seluruh titik tersebut, Kampung Baru Tirto menjadi wilayah dengan genangan tertinggi yang mencapai sekitar 100 sentimeter,” terangnya.
Budi menambahkan, kondisi cuaca ekstrem saat ini dipengaruhi oleh kombinasi fenomena La Nina lemah, Monsun Asia yang masih aktif, serta fase bulan baru.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang di wilayah Jawa Tengah, termasuk Kota Pekalongan, yang diperkirakan masih berlangsung hingga awal Februari 2026.
Pemko Pekalongan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta saling membantu selama masa tanggap darurat banjir berlangsung. (R)
beritaTerkait
komentar