Selasa, 07 April 2026

Densus 88 Ungkap Paparan Konten Kekerasan Digital yang Menyasar Anak dan Remaja

Agie HT Bukit SH - Jumat, 09 Januari 2026 01:12 WIB
Densus 88 Ungkap Paparan Konten Kekerasan Digital yang Menyasar Anak dan Remaja
Densus 88 Antiteror Polri bersama kementerian dan lembaga terkait menggelar konferensi pers penanganan anak terpapar konten kekerasan di ruang digital di Gedung Awaloedin Djamin, Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026). (Dok/Humas Polri)
Jakarta (buseronline.com) - Densus 88 Antiteror Polri mengungkap temuan serius terkait paparan konten kekerasan dan ideologi ekstrem di ruang digital yang menyasar anak-anak dan remaja.

Hal tersebut disampaikan dalam Konferensi Pers Penanganan Anak Terpapar Konten Kekerasan di Ruang Digital yang digelar di Gedung Awaloedin Djamin, Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu.

Kepala Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Mayndra Eka Wardana SIK mengatakan pihaknya menemukan sejumlah komunitas digital di media sosial yang berpotensi mendorong kekerasan ekstrem, khususnya terhadap anak-anak.

“Kami menemukan komunitas yang dibingkai dalam grup media sosial. Ini bukan satu-satunya, melainkan salah satu dari puluhan grup serupa yang telah kami identifikasi,” ujar Kombes Mayndra, dilansir dari laman Humas Polri.

Ia menjelaskan, kelompok-kelompok tersebut mulai terdeteksi sejak tahun 2025 dan hingga kini terus dilakukan intervensi bersama kementerian dan lembaga terkait di berbagai daerah.

Konten yang disebarkan dikemas secara menarik, mulai dari video pendek, animasi, meme, hingga musik, sehingga mudah menarik perhatian anak-anak.

Menurutnya, paparan konten kekerasan menjadi sangat berbahaya karena menyasar anak-anak yang masih berada pada fase pencarian jati diri dan belum memiliki kemampuan berpikir kritis yang matang.

Salah satu fenomena yang menjadi perhatian serius adalah berkembangnya True Crime Community di kalangan remaja.

Komunitas ini tumbuh tanpa tokoh atau organisasi resmi, namun memanfaatkan karakter ruang digital yang bersifat transnasional dan sensasional.

Densus 88 juga mencatat adanya keterkaitan antara konten ekstrem di media sosial dengan sejumlah kasus kekerasan global sepanjang 2025.

Salah satu kasus terjadi di Moskow, Rusia, pada Desember 2025, di mana pelaku menuliskan frasa “Jakarta Bombing 2025” pada senjata yang digunakan.

“Hal ini menunjukkan bahwa narasi kekerasan di ruang digital dapat melintasi batas negara dan menginspirasi aksi nyata,” ungkap Kombes Mayndra.

Ia menambahkan, pasca insiden kekerasan di SMA Negeri 72 Jakarta, Polri bersama kementerian dan lembaga terkait melakukan penanganan serentak terhadap lebih dari 70 anak di 19 provinsi yang teridentifikasi tergabung dalam komunitas tersebut.

“Dari hasil pendalaman, ditemukan adanya rencana aksi kekerasan ekstrem, termasuk pengeboman sekolah, penusukan, hingga rencana bunuh diri,” katanya.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 67 anak telah menjalani asesmen, pemetaan, konseling, dan pendampingan. Mayoritas berusia 11 hingga 18 tahun, dengan dominasi usia 15 tahun.

Faktor pemicu keterlibatan anak-anak tersebut antara lain perundungan, masalah keluarga, trauma psikologis, serta minimnya pengawasan orang tua.

Densus 88 mengimbau orang tua dan pihak sekolah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan perilaku anak, seperti ketertarikan berlebihan pada simbol kekerasan, menarik diri dari pergaulan, serta kecenderungan mengakses konten sadistik. (R)
Editor
: Agie HT Bukit SH
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru