Selasa, 26 Mei 2026

Densus 88 Ungkap 110 Anak di 26 Provinsi Terpapar Rekrutmen Terorisme Digital

Kamis, 20 November 2025 01:10 WIB
Densus 88 Ungkap 110 Anak di 26 Provinsi Terpapar Rekrutmen Terorisme Digital
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan temuan Densus 88 terkait 110 anak di 26 provinsi yang terpapar rekrutmen terorisme digital dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (18/11/2025).
Jakarta (buseronline.com) - Densus 88 Antiteror Polri mengungkap perkembangan penting terkait kasus rekrutmen anak oleh jaringan terorisme yang memanfaatkan ruang digital.

Dalam konferensi pers di Mabes Polri, Selasa, Polri menyampaikan bahwa hingga November 2025 tercatat 110 anak berusia 10-18 tahun di 26 provinsi telah terpapar upaya perekrutan melalui media sosial, game online, aplikasi pesan instan, hingga situs tertutup.

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan bahwa pola perekrutan kini semakin agresif dan terselubung.

Kelompok terorisme memanfaatkan kerentanan psikologis anak untuk membangun kedekatan sebelum menanamkan ideologi.

“Platform digital menjadi pintu masuk utama. Mereka memulai dari ruang terbuka seperti media sosial dan game online, lalu menarik korban ke komunikasi pribadi untuk membangun kedekatan emosional sebelum menanamkan ideologi,” ujar Brigjen Trunoyudo, dilansir dari laman Humas Polri.

Densus 88 telah menangkap lima tersangka dewasa yang diduga kuat berperan sebagai perekrut dan pengendali anak-anak, yakni:

FB alias YT (47), Medan

LN (23), Banggai

PB alias BNS (37), Sleman

NSPO (18), Tegal

JJS alias BS (19), Agam

Penangkapan terbaru dilakukan pada 17 November 2025, dengan mengamankan dua tersangka dari Sumatera Barat dan Jawa Tengah yang disebut sebagai perekrut inti.

Menurut Brigjen Trunoyudo, propaganda terorisme kini disebarkan melalui konten yang dekat dengan kehidupan anak, seperti video pendek, animasi, meme, hingga musik. Konten tersebut kemudian digunakan untuk memancing rasa ingin tahu anak, terutama mereka yang mengalami bullying, broken home, atau sedang mencari jati diri.

Tahapan perekrutan biasanya dimulai dari platform umum seperti Facebook, Instagram, dan game online, lalu berlanjut ke komunikasi pribadi melalui WhatsApp atau Telegram.

Menutup konferensi pers, Brigjen Trunoyudo menegaskan komitmen Polri dalam melindungi anak-anak Indonesia dari radikalisasi dan kekerasan digital.

“Polri berkomitmen penuh melindungi anak-anak Indonesia dari radikalisasi, eksploitasi ideologi, dan kekerasan digital. Anak adalah masa depan bangsa, dan tugas kita bersama menjaga mereka dari ancaman terorisme,” tegasnya.

Temuan ini menjadi peringatan serius akan masifnya ancaman terorisme di ruang digital, sekaligus mendorong pentingnya pengawasan orang tua dan literasi digital bagi anak-anak. (R)
Editor
: Agie HT Bukit SH
beritaTerkait
Sekolah Kartini Berdaya Dorong Perempuan Muda Melek Digital dan Hukum
Kementan Percepat Penetapan CPCL untuk Kejar Target Pengembangan Tebu Nasional 2026
Pemerintah Cabut 2.231 Izin Distributor Pupuk Bermasalah, Mafia Pangan Dibersihkan
AC Milan Tumbang dari Cagliari, Rossoneri Tutup Musim dengan Kekalahan
Pemprov Sumut Klarifikasi Anggaran Pembangunan Tower B RS Haji Medan
Juventus Gagal ke Liga Champions Usai Ditahan Imbang Torino 2-2
komentar
beritaTerbaru