Selasa, 07 Juli 2026

Empat Tersangka Ditetapkan dalam Kasus Korupsi Kerja Sama Penjualan BBM PPN-PT AKT

Kamis, 02 Juli 2026 12:10 WIB
Empat Tersangka Ditetapkan dalam Kasus Korupsi Kerja Sama Penjualan BBM PPN-PT AKT
Kortastipidkor Polri menetapkan empat tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi kerja sama penjualan BBM secara non-tunai antara PT PPN dan PT AKT yang berlangsung pada periode 2009 hingga 2012.

Jakarta (buseronline.com) - Kortastipidkor Polri menetapkan empat tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi kerja sama penjualan bahan bakar minyak (BBM) secara non-tunai antara PT PPN dan PT AKT yang berlangsung pada periode 2009 hingga 2012. Dilansir dari laman Humas Polri, kasus tersebut diduga menyebabkan kerugian keuangan negara sebesar sekitar Rp486 miliar.

Kabag Ops Kortastipidkor Polri, Kombes Pol Ahmad Yusuf mengatakan penyidikan menemukan adanya dugaan penyimpangan yang dilakukan secara bertahap melalui perubahan mekanisme kerja sama yang menguntungkan pihak pembeli meski memiliki riwayat tunggakan pembayaran.

"Pada awalnya kerja sama penjualan BBM jenis High Speed Diesel (HSD) menggunakan mekanisme pembayaran melalui Letter of Credit (LC) atau Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN). Namun, meskipun PT AKT berulang kali mengalami keterlambatan bahkan tunggakan pembayaran, penjualan tetap dilanjutkan tanpa dilakukan mitigasi risiko sebagaimana mestinya," ujar Ahmad Yusuf.

Menurutnya, pejabat berwenang di PT PPN diduga mengubah kebijakan melalui sejumlah adendum perjanjian. Perubahan tersebut meliputi penambahan volume penjualan BBM, pemberian diskon, penghapusan denda keterlambatan, hingga perubahan mekanisme pembayaran menjadi uang muka (down payment) sebesar 25 persen tanpa jaminan pembayaran.

Selain itu, mekanisme pengawasan internal dan proses penagihan juga diduga tidak dijalankan secara optimal sehingga kewajiban pembayaran dari pihak pembeli tidak dapat dipenuhi.

Dari penyaluran sekitar 191,37 juta liter BBM dengan nilai transaksi mencapai 137,29 juta dolar AS, PT AKT diduga tidak memenuhi kewajiban pembayarannya. Berdasarkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar 30,37 juta dolar AS atau sekitar Rp486 miliar.

Selama proses penyidikan, Kortastipidkor Polri telah memeriksa 88 orang saksi dan tiga orang ahli. Penyidik juga menggeledah lima lokasi serta menyita sejumlah dokumen, barang bukti elektronik, dan uang tunai senilai Rp2,36 miliar sebagai bagian dari upaya pemulihan aset.

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Pertamina Tuntaskan Penataan 31 Entitas Anak Usaha pada Semester I 2026
Pertamina Salurkan 200 Paket Bantuan Pendidikan untuk Siswa Prasejahtera di Banyuwangi
UMiMAX Pertamina Bantu Korban PHK Bangkit Lewat Usaha Ultra Mikro
Iriawan Tekankan Budaya HSSE Jadi Fondasi Keandalan Operasional Pertamina
Pertamina Pastikan Pasokan Energi Nasional, BBM dan LPG Jangkau hingga Wilayah 3T
Pertamina Pastikan Pasokan Avtur Aman di Bali Jelang Liburan Pertengahan Tahun
komentar
beritaTerbaru