Jumat, 15 Mei 2026

Mocaf Banjarnegara Tembus Pasar Internasional, Dongkrak Kesejahteraan Petani Singkong

Jumat, 15 Mei 2026 09:00 WIB
Mocaf Banjarnegara Tembus Pasar Internasional, Dongkrak Kesejahteraan Petani Singkong
Pelaku usaha mocaf Banjarnegara, Riza Azyumardi Azra di gerai Rumah Mocaf, Kabupaten Banjarnegara, Kamis (14/5/2026).

Banjarnegara (buseronline.com) - Tepung singkong atau modified cassava flour (mocaf) asal Kabupaten Banjarnegara berhasil menembus pasar internasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani singkong lokal.

Dilansir dari laman Jatengprov, produk pangan berbahan dasar ubi kayu itu kini menjadi alternatif pengganti tepung gandum yang semakin diminati masyarakat.

Pelaku usaha mocaf Banjarnegara, Riza Azyumardi Azra mengatakan dirinya mulai mengembangkan usaha pengolahan singkong sejak 2015. Saat itu, ia prihatin karena hasil panen petani singkong hanya dihargai sekitar Rp200 per kilogram.

Melalui Rumah Mocaf yang didirikannya, Riza kemudian menyerap hasil panen petani untuk diolah menjadi berbagai produk turunan berbahan tepung singkong.

"Dalam satu bulan untuk pasar domestik sekitar 30-40 ton. Kini tren permintaannya terus naik. Kami menjual ke pasar retail, pasar daring, dan pesanan personal. Kalau ke luar negeri, pernah ke Oman, Turki, Malaysia, juga ada permintaan dari China," ujar Riza di gerai Rumah Mocaf, Kabupaten Banjarnegara, Kamis.

Menurutnya, mocaf tidak hanya diolah menjadi tepung, tetapi juga menjadi berbagai produk pangan seperti chocolate chips, chiffon cake, selondok, gula, tepung roti, tepung berbumbu, hingga gula cair.

Riza menjelaskan, produk berbahan mocaf memiliki keunggulan karena bebas gluten sehingga cocok dikonsumsi penderita celiac maupun masyarakat yang memiliki alergi terhadap gandum.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, Rumah Mocaf bekerja sama dengan petani singkong dari berbagai wilayah di Banjarnegara. Singkong yang telah diolah menjadi mocaf kemudian diproses kembali menjadi aneka produk pangan sehat.

Ia berharap tepung mocaf dapat masuk dalam program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, pemerintah diharapkan dapat memberikan subsidi bagi tepung lokal agar mampu bersaing dengan tepung gandum di pasaran.

"Kalau dari Pemprov Jateng, kami pernah mendapat dukungan berupa alat oven untuk produksi chiffon dan cookies, serta alat kemas untuk packing," katanya.

Dampak berkembangnya industri mocaf juga dirasakan langsung para petani singkong. Petani asal Desa Parakan, Kecamatan Purwanegara, Latif, mengaku harga singkong kini meningkat hingga di atas Rp1.000 per kilogram.

"Dulu kesusahan kalau mau jual, sampai harus ke luar kota. Sekarang kami siap menampung dengan harga yang sedikit lebih tinggi," ujarnya.

Latif menambahkan, petani singkong di desanya mampu memproduksi hingga 21 ton per tahun dari lahan seluas 1-2 hektare. Dalam pemasaran tepung mocaf, para petani bekerja sama dengan Rumah Mocaf milik Riza dengan kapasitas produksi 10-15 ton per bulan. "Harapannya, tepung ini bisa dikenal ke seluruh Indonesia," ucapnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen terus mendorong pengembangan pangan lokal berbahan singkong dan tepung mocaf.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah, sejak 2022 produk turunan tepung lokal seperti mi mocaf, beras jagung, dan beras singkong telah dimasukkan sebagai bagian dari cadangan pangan pemerintah selain beras. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Nawal Yasin Kunjungi Kampung Singkong Salatiga, Tekankan Inovasi UMKM Lokal
komentar
beritaTerbaru