"Kolaborasi strategis ini menjadi langkah
Pertamina dalam memperkuat portofolio bisnis rendah karbon melalui pemanfaatan
limbah domestik sebagai sumber energi masa depan," kata Agung.
Ia menambahkan, UCO menjadi salah satu bahan baku paling efisien untuk menghasilkan SAF dan HVO karena memiliki profil emisi siklus hidup yang rendah.
"Pertamina sangat membutuhkan UCO demi keberlanjutan bisnis dan kepatuhan terhadap standar dekarbonisasi global," ujarnya.
Pertamina menargetkan pencampuran SAF mulai dari 1 persen hingga 5 persen pada 2030 sesuai amanat Pemerintah melalui Kepmen ESDM No. 113/2026.
Program ini diharapkan mendukung tiga agenda strategis nasional, yakni ketahanan pangan, ketahanan energi, dan hilirisasi industri, sekaligus mempercepat pengembangan energi baru terbarukan berbasis sumber daya domestik yang berkelanjutan.
Penandatanganan Nota Kesepahaman dilakukan oleh Direktur Utama
Pertamina Simon Aloysius Mantiri bersama Kepala
Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana di Grha
Pertamina, Jakarta. Turut hadir Komisaris Utama
Pertamina Mochamad Iriawan dan Direktur Utama
Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra. (R)
beritaTerkait
komentar