Senin, 06 April 2026

Sumur Bor Dalam di Mojokerto Dibangun Kementan–KemenPU, Biaya Petani Turun 80 Persen

Dirgahayu Ginting - Senin, 06 April 2026 09:06 WIB
Sumur Bor Dalam di Mojokerto Dibangun Kementan–KemenPU, Biaya Petani Turun 80 Persen
Aliran air dari sumur bor dalam Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) mengaliri saluran irigasi di Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto. (Dok/Kementerian Pertanian)

Mojokerto (buseronline.com) - Kementerian Pertanian bersama Kementerian Pekerjaan Umum memperkuat infrastruktur air melalui pembangunan sumur bor dalam Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Desa Kedunguneng, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Program ini mampu menekan biaya operasional petani hingga 80 persen sekaligus menjamin ketersediaan air untuk musim tanam.

Dilansir dari laman Kementerian Pertanian, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan penguatan infrastruktur air sebagai kunci menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional, terutama di tengah tantangan perubahan iklim.

Menurutnya, sumur bor dalam menjadi solusi konkret bagi petani dalam menghadapi keterbatasan air sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani di tingkat lapangan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Dhani Gartina, menjelaskan bahwa keberadaan sumur JIAT memberikan kepastian ketersediaan air bagi petani.

"Kalau kelompok tani (poktan) dan gapoktan di sini bergerak, tahun depan outlet bisa ditambah. Artinya, kepastian air untuk satu musim tanam sudah bisa dijamin. Pemerintah sudah membangun sumber air ini secara gratis, sekarang tinggal petaninya bergerak dan memanfaatkan, serta merawatnya," ujar Dhani, Jumat (3/4/2026).

Dhani juga menekankan pentingnya kesiapan kelembagaan petani dalam mengelola fasilitas tersebut agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

"Yang paling penting kelembagaan petani harus dapat mengelola sarana dan prasarana irigasi ini. Saya titip pesan, ini harus dirawat sampai puluhan tahun. Infrastruktur pengairan ini nilainya tidak kecil," tambahnya.

Dampak positif pembangunan sumur bor dalam dirasakan langsung oleh masyarakat. Kepala Dusun Sumenggo, Julianto, mengapresiasi bantuan pemerintah yang telah lama dinantikan.

"Atas nama masyarakat petani Sumenggo dan Junggosari, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah, khususnya kepada Menteri Pertanian dan Presiden Republik Indonesia. Bantuan ini sangat berarti, sehingga petani kami tidak lagi kesulitan air," ujarnya.

Julianto menjelaskan, sebelum adanya sumur bor dalam, petani harus mengandalkan sumur bor dangkal dengan biaya operasional yang tinggi.

"Dulu, kalau pakai sumur bor dangkal, biayanya bisa sampai Rp500 ribu per hari. Sekarang, dengan sumur bor dalam, biaya hanya sekitar Rp70 ribu karena sekarang dengan listrik, tidak susah lagi nyari dan pikul-pikul solar. Ini sangat membantu dan meringankan beban petani," katanya.

Ia menambahkan, program ini menjadi jawaban atas penantian panjang masyarakat selama puluhan tahun.

"Ini penantian kami sudah lama, bahkan sampai 30 tahun. Selama ini sulit sekali mengajukan sumur bor dalam. Alhamdulillah, sekarang di era Presiden dan Menteri Pertanian saat ini, prosesnya dipermudah dan akhirnya bisa terwujud. Ini sangat luar biasa bagi kami," ungkap Julianto.

Dengan efisiensi biaya hingga 80 persen dan kepastian pasokan air, pembangunan sumur bor dalam JIAT diharapkan dapat meningkatkan indeks pertanaman, produktivitas pertanian, dan memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. (R)

Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru