Makassar (buseronline.com) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengajak Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mempercepat hilirisasi sektor pertanian guna mendorong Indonesia menjadi pemain utama dalam ekonomi global. Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Sidang Dewan Pleno HIPMI 2026 di Hotel Four Points by Sheraton, Makassar, Minggu.
Forum tersebut menjadi momentum konsolidasi pengusaha muda dari seluruh Indonesia untuk memperkuat peran strategis dunia usaha dalam menopang transformasi ekonomi nasional berbasis nilai tambah dan industrialisasi komoditas dalam negeri.
Dalam paparannya, dilansir dari laman Kementan, Mentan Amran menegaskan satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berfokus pada penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, serta deregulasi untuk mempercepat investasi dan produksi nasional.
Ia mengungkapkan sempat diminta mempercepat target swasembada pangan dari empat tahun menjadi tiga tahun, bahkan satu tahun.
“Negara kita besar, penduduknya 286 juta. Kalau satu tahun hampir pasti tidak bisa tercapai tanpa dukungan penuh kebijakan,” ujarnya.
Meski dihadapkan perubahan target dan ancaman El Nino, kerja kolektif pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan akhirnya membuahkan hasil. Pada 7 Januari 2026 Indonesia diumumkan mencapai swasembada dalam waktu tercepat sepanjang sejarah.
Menurut Amran, capaian tersebut tak lepas dari sinergi lintas kementerian serta partisipasi dunia usaha termasuk HIPMI.
“Ini bukan saya, ini kita semua. HIPMI mengambil bagian dalam pencapaian yang kita lihat hari ini,” katanya.
Data pemerintah menunjukkan produksi dan stok beras nasional berada pada posisi tertinggi sepanjang Indonesia merdeka. Sektor pertanian tumbuh 10,52 persen dan menjadi salah satu penopang utama PDB nasional.
Indonesia juga memperoleh dua penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) atas kontribusinya memperkuat sistem pangan global.
Mentan menegaskan fase berikutnya adalah hilirisasi besar-besaran sektor pertanian dan perkebunan dengan dukungan anggaran hingga Rp371 T dalam tiga tahun ke depan.
“Hilirisasi bukan pilihan, tapi keharusan. Kita punya bahan baku terbesar dunia, tapi nilai tambahnya dinikmati negara lain,” tegasnya.
Ia mencontohkan komoditas kelapa yang produksinya terbesar di dunia. Harga kelapa sekitar Rp1.350, namun bila diolah menjadi coconut milk, coconut water, dan produk turunan, nilainya bisa meningkat hingga 100 kali lipat.
Selain itu, Indonesia menguasai 80 persen bahan baku gambir, namun pengolahannya masih banyak dilakukan di luar negeri. Pada komoditas minyak sawit mentah (CPO), Indonesia menguasai sekitar 60–70 persen pasar global. Dengan strategi biofuel dan pengurangan impor solar, nilai tambah diperkirakan meningkat signifikan.
“Kalau harga CPO rendah kita serap jadi biofuel dalam negeri, kalau tinggi kita ekspor. Kita bisa memainkan dunia,” ujarnya.
Amran menilai keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada keberanian generasi pengusaha muda mengambil peluang investasi dan industri pengolahan.
“HIPMI menentukan republik ini lima, sepuluh, lima belas tahun ke depan. Perputaran ekonomi ada di pengusaha,” katanya.
Ia menegaskan lompatan ekonomi hanya terjadi bila ada perubahan cara kerja dan keberanian keluar dari zona nyaman.
Kementerian Pertanian, lanjutnya, membuka peluang konkret bagi pengusaha muda melalui program cetak sawah baru, pengembangan kakao hampir satu juta hektare dengan dukungan Rp10 T, serta pembangunan pabrik kelapa senilai Rp1,5 T per unit melalui skema kolaborasi pembiayaan.
Amran juga mengingatkan Indonesia harus keluar dari middle income trap melalui konsistensi kebijakan hilirisasi.
“Kalau tiga komoditas saja kita hilirisasi serius — kelapa, gambir, dan CPO — nilainya bisa 15.000 sampai 20.000 triliun. Ini bukan mimpi, ini soal kita mau atau tidak,” pungkasnya.
Sidang Dewan Pleno HIPMI 2026 pun menjadi panggung konsolidasi sekaligus panggilan aksi bagi pengusaha muda untuk mengambil peran lebih besar dalam mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian energi, dan transformasi ekonomi nasional berbasis hilirisasi. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar