Jumat, 10 April 2026

Proyek Biorefinery Cilacap Ubah Jelantah jadi Bioavtur, Dukung Langit Biru Indonesia

Selasa, 10 Februari 2026 06:18 WIB
Proyek Biorefinery Cilacap Ubah Jelantah jadi Bioavtur, Dukung Langit Biru Indonesia
Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Emma Sri Martini (tengah) meninjau lokasi pembangunan Proyek Bioavtur/Biorefinery Cilacap berbahan baku minyak jelantah di Cilacap, Jumat (6/2/2026). (Dok/Pertamina)
Cilacap (buseronline.com) - PT Pertamina (Persero) terus memperkuat komitmennya dalam mendukung transisi energi dan swasembada energi nasional melalui pengembangan Proyek Bioavtur/Biorefinery Cilacap yang memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO).

Proyek ini menjadi kelanjutan keberhasilan Phase 1 Revamp TDHT Cilacap yang telah mampu mengolah jelantah menjadi SAF melalui skema co-processing. Pada tahap berikutnya, Pertamina meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan melalui pembangunan Biorefinery Cilacap Phase 2.

Jika sebelumnya kapasitas produksi SAF hanya mencapai 27 kiloliter per hari, maka pada 2029 ditargetkan melonjak menjadi 887 kiloliter per hari.

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, menegaskan proyek ini memiliki nilai strategis tinggi, tidak hanya untuk ketahanan energi, tetapi juga perekonomian dan keberlanjutan lingkungan.

“Biorefinery Cilacap merupakan program strategis dari Bapak Presiden Prabowo dan juga Danantara sejalan dengan Program Asta Cita Pemerintah, khususnya terkait swasembada energi, hilirisasi dan industrialisasi, serta pemerataan ekonomi,” ujar Emma saat groundbreaking Biorefinery Cilacap, Jumat.

Menurutnya, dilansir dari laman Pertamina, pengembangan bioavtur di Cilacap akan memperkuat posisi Indonesia dalam menciptakan kemandirian energi aviasi sekaligus meningkatkan daya saing industri energi nasional.

Selain menjadi bagian dari strategi transisi energi, proyek ini juga tercatat sebagai satu dari lima Proyek Hilirisasi Danantara di sektor energi. Langkah tersebut selaras dengan strategi Dual Growth Pertamina, yakni mengembangkan bisnis rendah karbon tanpa mengabaikan penguatan bisnis inti perusahaan.

Untuk memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku, Pertamina membangun sinergi lintas pemangku kepentingan, mulai dari regulator, penyedia jelantah, produsen, hingga pengguna akhir. Ekosistem tersebut diharapkan mampu menciptakan rantai pasok SAF yang terintegrasi dan kompetitif di tingkat global.

Dari sisi manfaat, proyek Biorefinery Cilacap dinilai memberikan dampak berlipat (multiplier effect). Secara ekonomi, kontribusinya diproyeksikan mencapai Rp199 T per tahun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Dari sisi lingkungan, penggunaan SAF diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon hingga 600 ribu ton CO₂ per tahun.

Sementara dari sisi sosial, proyek ini berpotensi menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja serta mendorong tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebesar 30 persen.

Pertamina juga melibatkan masyarakat dalam pengumpulan bahan baku jelantah melalui program bank sampah, salah satunya Bank Sampah Beo Asri di Kelurahan Tegalreja, Kabupaten Cilacap, yang melibatkan lebih dari 2.900 kepala keluarga.

“Ini salah satu proyek percontohan yang cukup lengkap. Bisa mengurangi impor, menekan defisit transaksi berjalan, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menjadi energi hijau yang mengurangi emisi karbon dan polusi,” tambah Emma.

Melalui pengembangan Biorefinery Cilacap, Pertamina menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan solusi energi bersih dan berkelanjutan. Proyek ini sekaligus menjadi fondasi penguasaan teknologi energi baru dan terbarukan di dalam negeri.

“Pengembangan Biorefinery Cilacap menjadi fondasi jangka panjang bagi penguasaan teknologi, peningkatan daya saing bangsa, serta wujud sinergi seluruh elemen dalam membangun masa depan energi yang berkelanjutan,” tandasnya.

Sebagai perusahaan yang memimpin transisi energi, Pertamina juga menargetkan pencapaian Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs) serta implementasi prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) dalam seluruh lini bisnisnya.

Dengan proyek ini, Pertamina optimistis Indonesia mampu menghadirkan bahan bakar aviasi ramah lingkungan berbasis sumber daya domestik, sekaligus menjaga langit biru melalui pengurangan emisi sektor penerbangan. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Momen HUT ke-80 TNI AU, Pesawat Presiden Prabowo Dikawal Enam Jet Tempur
PMI Siap Salurkan Bantuan untuk Warga Iran
Pertamina Fasilitasi 1.346 Sertifikasi UMKM, Perkuat Daya Saing dan Akses Pasar
Pertamina Borong PROPER 2026, Sabet 14 Emas dan 108 Hijau
Jabar Bangun PSEL di Sarimukti dan Kayumanis, Sampah Diolah Jadi Listrik
Bupati Taput Tegaskan Disiplin ASN dan Optimalisasi Aset Daerah
komentar
beritaTerbaru