Senin, 06 April 2026

Ekonomi Berkelanjutan Jadi Fokus, Menkeu Minta Tiga Mesin Pertumbuhan Diselaraskan

Dirgahayu Ginting - Minggu, 18 Januari 2026 06:16 WIB
Ekonomi Berkelanjutan Jadi Fokus, Menkeu Minta Tiga Mesin Pertumbuhan Diselaraskan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan arahan terkait penyelarasan mesin fiskal, sektor keuangan, dan investasi dalam Rapat Kerja Nasional Kejaksaan Agung yang digelar secara daring dari Jakarta, Selasa (13/1/2026). (Dok/Kemenkeu)
Jakarta (buseronline.com) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa visi besar Indonesia Emas 2045 bukan sekadar jargon, melainkan agenda strategis lintas generasi yang harus diwujudkan melalui kebijakan konkret dan terukur.

Melalui Asta Cita, pemerintah berkomitmen mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menjaga stabilitas nasional, serta memastikan pemerataan manfaat pembangunan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Untuk mencapai tujuan tersebut, dilansir dari laman Kemenkeu, Menkeu menyampaikan pemerintah mengandalkan tiga mesin pertumbuhan utama, yakni mesin fiskal, sektor keuangan, dan investasi. Ketiga mesin tersebut diharapkan dapat bergerak selaras dan saling memperkuat guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.

“Asta Cita menuntut pertumbuhan tinggi, stabilitas nasional, dan pemerataan manfaat pembangunan. Mesin pertumbuhan harus bekerja selaras, yaitu mesin fiskal, mesin sektor keuangan, dan mesin investasi,” ujar Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan arahan dalam Rapat Kerja Nasional Kejaksaan Agung yang dilaksanakan secara daring, Selasa.

Menkeu menjelaskan, dari sisi fiskal, pemerintah terus berupaya mengoptimalkan belanja negara agar dilaksanakan secara tepat waktu, tepat sasaran, serta bebas dari kebocoran. Optimalisasi belanja tersebut diharapkan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Sementara itu, pada sektor keuangan, pemerintah memperkuat koordinasi dengan bank sentral guna memastikan kebijakan moneter berjalan seiring dan sejalan dengan kebijakan fiskal. Sinergi tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi makro sekaligus menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan.

Di sisi investasi, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah. Satgas tersebut bertugas mengatasi berbagai hambatan investasi atau debottlenecking melalui mekanisme penyelesaian masalah secara rutin. Setiap pekan, pemerintah menggelar sidang untuk membahas dan menyelesaikan kendala yang dihadapi para pelaku usaha, sehingga iklim investasi di Indonesia semakin kondusif.

“Saya pikir nanti kalau tiga sistem itu, sistem fiskal, moneter, dan investasi sudah berjalan dengan baik, kita bisa tumbuh lebih cepat,” tandas Menkeu.

Lebih lanjut, Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 akan diarahkan bersifat ekspansif namun tetap terukur. Kebijakan tersebut difokuskan pada delapan agenda prioritas nasional yang sejalan dengan Visi Indonesia Emas 2045.

Belanja negara pada APBN 2026 diharapkan tidak hanya memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan jangka panjang serta meningkatkan produktivitas nasional secara berkelanjutan.

Dengan penyelarasan tiga mesin pertumbuhan tersebut, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia dapat tumbuh lebih kuat, stabil, dan inklusif dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru