Semarang (buseronline.com) - Sepuluh bulan kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen mulai menampakkan hasil nyata, khususnya pada sektor infrastruktur jalan. Jalan-jalan provinsi yang sebelumnya dikenal rusak, retak, dan bergelombang, kini berangsur berubah menjadi jalur yang mulus dan nyaman dilalui.
Salah satu contohnya terlihat di ruas Jalan Sokaraja–Kalimanah, Kabupaten Banyumas. Jalan yang dahulu kerap dikeluhkan warga karena berlubang dan tidak rata, kini tampil dengan aspal hitam mengilap serta marka jalan yang jelas. Kendaraan dapat melaju lebih lancar tanpa hambatan berarti.
Untuk memastikan kualitas infrastruktur tersebut, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meninjau langsung ruas Jalan Sokaraja–Kalimanah, Selasa (23/12/2025). Ruas ini merupakan jalur strategis yang kerap dilalui wisatawan menuju kawasan pegunungan di wilayah selatan Jawa Tengah.
“Dengan kondisi jalan seperti ini, masyarakat bisa menikmati liburan di Jawa Tengah dengan lebih nyaman dan aman,” ujar Taj Yasin saat peninjauan.
Menurutnya, bersama Gubernur Ahmad Luthfi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen memastikan seluruh ruas jalan provinsi berada dalam kondisi siap pakai, terutama menghadapi arus libur Natal dan Tahun Baru.
Bagi masyarakat, perbaikan jalan memberikan dampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari. Abdul, warga Banyumas, mengaku merasakan perubahan signifikan sejak ruas jalan tersebut diperbaiki.
“Sekarang jalannya enak dilewati. Lalu lintas lebih lancar dan tentu berpengaruh ke aktivitas warga serta usaha,” tuturnya.
Data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat, hingga akhir 2025, kondisi jalan provinsi yang masuk kategori mantap telah mencapai 94,01 persen. Capaian tersebut merupakan hasil dari serangkaian pekerjaan peningkatan, rehabilitasi, dan pemeliharaan jalan serta jembatan yang dilakukan sepanjang tahun.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Cipta Karya (DPU BMCK) Jawa Tengah, Hanung Triyono, menjelaskan bahwa pada 2025 pihaknya menuntaskan 27 paket peningkatan jalan dengan nilai anggaran Rp484,65 M. Selain itu, terdapat 52 paket rehabilitasi dan pemeliharaan jalan serta jembatan senilai Rp315,42 M yang tersebar di berbagai wilayah.
“Total pembenahan jalan dan jembatan provinsi mencapai panjang 2.440,12 kilometer. Hingga triwulan keempat 2025, kondisi jalan provinsi sudah mencapai 94,01 persen mantap,” kata Hanung, Jumat (26/12/2025).
Sejumlah ruas strategis turut menjadi prioritas perbaikan, di antaranya Jalan Semarang–Godong yang kerap menjadi jalur alternatif saat Pantura Kaligawe tergenang banjir, serta Jalan Brigjen Sudiarto di Kota Semarang yang memiliki volume lalu lintas tinggi menuju kawasan Mranggen–Demak.
“Paket peningkatan Semarang–Godong di wilayah Mranggen sudah selesai. Jalan Brigjen Sudiarto di dalam kota juga sudah rampung dan aman dilalui,” tambahnya.
Meski demikian, Pemprov Jateng menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada penyelesaian proyek. Memasuki musim hujan, risiko penurunan kualitas jalan tetap diantisipasi. Untuk itu, DPU BMCK menyiagakan tim reaksi cepat di sembilan Balai Pengelolaan Jalan guna memantau kondisi jalan secara berkala.
“Jika muncul lubang baru, target penanganannya maksimal 1 x 24 jam. Arahan gubernur jelas, jalan provinsi harus bebas lubang,” tegas Hanung.
Pada masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, jalur tengah Jawa Tengah dipastikan siap menjadi alternatif jalur nasional Pantura maupun tol. Jalur Brebes–Bantarsari–Tegal–Slawi–Jatinegara hingga Pemalang–Randudongkal, serta percabangan menuju Belik–Purbalingga dan Sukorejo–Plantungan, dinyatakan dalam kondisi layak dan aman dilalui.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa perhatian terhadap infrastruktur dasar menjadi prioritas sejak awal masa kepemimpinannya.
“Pertama yang kami utamakan adalah infrastruktur dasar dan layanan dasar,” ujar Ahmad Luthfi.
Sepuluh bulan berjalan, jalan-jalan provinsi menjadi bukti arah kebijakan tersebut. Bagi masyarakat, jalan yang mulus bukan sekadar angka statistik, melainkan penghubung aktivitas ekonomi, akses sosial, serta simbol kehadiran pemerintah yang dirasakan langsung hingga ke lapisan paling dekat dengan kehidupan warga. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar