Rabu, 10 Juni 2026

Refleksi Ekonomi Jateng 2025: Pertumbuhan Pesat dan Investasi Meningkat

Sabtu, 27 Desember 2025 06:16 WIB
Refleksi Ekonomi Jateng 2025: Pertumbuhan Pesat dan Investasi Meningkat
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi (kanan) berdialog dengan pekerja saat meninjau aktivitas produksi di salah satu pabrik di Jawa Tengah, sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi daerah, Senin (22/12/2025). (Dok/Humas Jateng)
Semarang (buseronline.com) - Tahun 2025 kian mendekati penghujung. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersiap menutup tahun dengan catatan optimistis sekaligus menatap 2026 dengan penuh harapan.

Sepanjang 2025, berbagai dinamika dan tantangan mewarnai perjalanan pembangunan daerah, khususnya di sektor ekonomi. Namun di tengah tekanan global dan kebijakan penyesuaian anggaran pemerintah pusat, kinerja ekonomi Jawa Tengah tetap menunjukkan tren positif.

Di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin, perekonomian Jawa Tengah mampu tumbuh melampaui rata-rata nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Rabu (5/11/2025), pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada Triwulan III 2025 tercatat sebesar 5,37 persen secara year on year (YoY). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,04 persen.

Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Tengah, Endang Tri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa struktur perekonomian Jawa Tengah masih didominasi oleh empat lapangan usaha utama.

Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan sumbangan 33,43 persen, disusul sektor perdagangan sebesar 13,44 persen, pertanian 12,88 persen, dan konstruksi 11,82 persen.

“Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian Jawa Tengah dengan kontribusi mencapai 60,64 persen,” ungkap Endang.

Capaian tersebut tidak terlepas dari berbagai program pembangunan dan kebijakan strategis yang dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, termasuk penguatan kolaborasi lintas sektor.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang dicapai merupakan hasil perencanaan matang dan kerja bersama seluruh pemangku kepentingan.

“Ini merupakan hasil perencanaan dan kerja kolaborasi dari seluruh stakeholder, termasuk pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, serta Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah,” ujar Ahmad Luthfi saat memberikan keterangan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Senin (22/12/2025).

Melesatnya pertumbuhan ekonomi tersebut turut berdampak pada meningkatnya minat dan realisasi investasi di Jawa Tengah. Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah menunjukkan, realisasi investasi sepanjang Januari hingga September 2025 mencapai Rp66,13 T.

Dari capaian tersebut, investasi mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 326.462 orang, menjadikan Jawa Tengah sebagai daerah dengan penyerapan tenaga kerja terbanyak kedua di Pulau Jawa.

Ahmad Luthfi menekankan bahwa pembangunan daerah tidak dapat hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Membangun suatu daerah itu tidak bisa mengandalkan APBD atau PAD saja, karena porsinya hanya sekitar 15 persen. Sementara 85 persen lainnya berasal dari investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, Provinsi Jawa Tengah mengedepankan konsep collaborative government atau pemerintahan kolaboratif,” tegasnya.

Untuk menjaga iklim investasi yang kondusif, Pemprov Jawa Tengah terus berkomitmen memberikan kepastian dan kenyamanan berusaha. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kerja sama dengan pelaku industri, percepatan layanan perizinan yang transparan, cepat, dan berbasis digital, serta pengembangan sumber daya manusia yang kompeten.

Berbagai program peningkatan kualitas SDM juga terus digalakkan, mulai dari pelatihan vokasi, penguatan link and match antara dunia pendidikan dan industri, hingga peningkatan keterampilan pencari kerja.

Selain itu, Pemprov Jawa Tengah mendorong pembangunan dan pengembangan kawasan industri baru, serta mengajak seluruh kepala daerah di kabupaten/kota untuk membuka kawasan industri maupun kawasan ekonomi guna menarik investasi di wilayah masing-masing.

Beragam upaya tersebut membuahkan hasil dan apresiasi di tingkat nasional. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meraih penghargaan Pioneer of Economic Empowerment atau Pelopor Pemberdayaan Ekonomi dalam ajang Indonesia Kita Award.

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Gubernur Ahmad Luthfi di Yudhistira Grand Ballroom Patra Jasa Office Tower, Jakarta Selatan, Senin (10/11/2025).

Pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya investasi pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Data BPS Jawa Tengah mencatat, persentase penduduk miskin di provinsi ini mengalami penurunan dari 9,58 persen pada September 2024 menjadi 9,48 persen pada Maret 2025, atau turun sebesar 0,10 persen.

Menatap tahun 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menilai daerah ini tengah berada pada fase pemulihan sekaligus transformasi struktural ekonomi.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, mengatakan bahwa industri pengolahan dan sektor pertanian akan tetap menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi daerah.

“Industri pengolahan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, sementara sektor pertanian berperan penting dalam menjaga stabilitas pangan dan pengendalian inflasi,” ujar Sujarwanto saat membuka Bisnis Indonesia Group (BIG) Conference bertajuk Central Java at a Crossroads: Between Manufacturing & Agriculture di Semarang, Senin (8/12/2025).

Menurutnya, sektor industri pengolahan merupakan mesin utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah karena memiliki porsi dominan dalam struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Di sisi lain, sektor pertanian memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Meski demikian, Sujarwanto mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, seperti tekanan harga pangan, dinamika ekonomi global, serta ketersediaan bahan baku. Kondisi tersebut menuntut keseimbangan antara penguatan sektor manufaktur dan modernisasi pertanian agar pertumbuhan ekonomi tetap inklusif dan berkelanjutan.

“Strategi yang perlu dilakukan antara lain penguatan kawasan industri, percepatan investasi berbasis teknologi dan industri hijau, serta digitalisasi dan peningkatan produktivitas manufaktur,” jelasnya.

Selain itu, kemitraan antara industri dan petani juga perlu terus diperkuat untuk menjaga pasokan bahan baku dan stabilitas harga. Upaya tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi dan pelatihan kerja yang selaras dengan kebutuhan industri.

Dengan fondasi ekonomi yang semakin kokoh, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah optimistis dapat melanjutkan tren pertumbuhan positif pada 2026, sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Bripda Fikas Biyan Aswari Sabet Juara 2 di Adidas International Karate Open 2026
Belanda Menang Dramatis atas Uzbekistan, Gakpo Jadi Pahlawan di Pengujung Laga
Rico Waas Evaluasi Program Prioritas, Tekankan Percepatan Realisasi Janji Kampanye
Olise Bersinar dengan Hat-trick, Prancis Taklukkan Irlandia Utara 3-1
Spanyol Bungkam Peru 3-1, Modal Berharga Jelang Piala Dunia 2026
Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Politik Luar Negeri Bebas Aktif Saat Terima Surat Kepercayaan Dubes
komentar
beritaTerbaru