Jumat, 18 September 2026

Produk Pertanian Jateng Dilirik Pasar Global, Pemprov Tingkatkan Pendampingan Petani

Selasa, 02 Desember 2025 11:15 WIB
Produk Pertanian Jateng Dilirik Pasar Global, Pemprov Tingkatkan Pendampingan Petani
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng, Defransisco Dasilva menyampaikan materi pada Bimtek Akselerasi Ekspor Unggulan di Depo Adam Wiji, Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Sabtu (28/11/2025). (Dok/Diskominfo Jateng)
Semarang (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong peningkatan kualitas dan daya saing produk pertanian agar mampu menembus pasar internasional. Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil, dengan nilai ekspor produk pertanian—meliputi komoditas tumbuhan, ikan, hewan, serta produk UMKM—mencapai Rp18,2 T pada kuartal III/2025.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah, Defransisco Dasilva, mengatakan bahwa produksi pertanian di Jateng saat ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga memiliki peluang besar untuk dipasarkan ke luar daerah maupun luar negeri.

Namun demikian, ia menilai masih ada sejumlah tantangan yang harus dibenahi, khususnya terkait kuantitas, kualitas, dan kontinuitas produk.

“Maka itu harus dilakukan secara gabungan kelompok tani atau gapoktan, supaya skala usahanya besar. Sehingga bisa memenuhi kapasitas yang diminta luar negeri,” ujarnya pada kegiatan Bimtek Akselerasi Ekspor Unggulan di Depo Adam Wiji, Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Sabtu.

Untuk mempercepat penetrasi pasar global, Pemprov Jateng memberikan berbagai bentuk pendampingan, mulai dari fasilitasi pascapanen seperti pembangunan rumah kemas, cold storage, unit pengering, hingga pelatihan good handling practices (GHP).

Selain itu, pemerintah juga membantu proses pengolahan produk melalui penyediaan mesin roasting, grinder kopi, hingga bimtek standar mutu dan label halal agar produk petani memenuhi standar ekspor.

Frans berharap seluruh instansi terkait—including Distanbun, Disperindag, Balai Karantina, serta Bank Indonesia—dapat bersinergi mendampingi gapoktan yang berpotensi menjadi eksportir. Pendampingan yang terarah dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan volume ekspor Jateng.

Menurut data Distanbun, terdapat 8.200 gapoktan di Jawa Tengah. Dari jumlah tersebut, baru 2.568 kelompok yang sudah mendapat pendampingan untuk pengembangan produk ekspor.

“Jumlah tersebut masih sangat sedikit dibanding total petani kita yang mencapai 4 juta. Nah, bayangkan bila petani milenial juga ikut terjun dalam pertanian berorientasi ekspor,” kata Frans.

Berdasarkan data Balai Karantina Indonesia (Barantin) hingga November 2025, nilai ekspor produk pertanian dan UMKM asal Jateng telah mencapai Rp18,2 T.

Dalam kesempatan yang sama, dilakukan pelepasan ekspor sejumlah komoditas pertanian, kelautan, dan kehutanan. Di antaranya:

320 kg sarang burung walet ke Tiongkok senilai Rp4,7 M,

27 ton ikan pari beku ke Belanda senilai Rp902 juta,

17,8 ton kerupuk udang ke Belanda,

15 ton kapulaga ke Tiongkok senilai Rp1,4 M,

17 ton biji kopi ke Uni Emirat Arab bernilai Rp1,4 M,

58,5 m³ plywood dengan nilai Rp466 juta.

Pemprov Jateng menegaskan komitmennya untuk memperluas pasar ekspor dengan terus memperkuat kapasitas petani dan UMKM agar mampu memenuhi permintaan global secara berkelanjutan. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Pemerintah Targetkan Produksi E20 dalam Dua Tahun, Siapkan 2 Juta Hektare Lahan Tebu
Pemkab Taput Perkuat Promosi Pariwisata dan UMKM Lewat Media Sosial
Wabup Taput Tegaskan ASN Harus Profesional, Berintegritas dan Cepat Melayani Masyarakat
Pemprov Sumut Salurkan Rp49,5 Miliar untuk Program Bersekolah Gratis
Polri Kerahkan Dua Kapal dan Helikopter untuk Cari Korban KM Virgo Transport 8
19 Warga Terdampak Asap Kebakaran Lahan di Ciumbuleuit Bandung
komentar
beritaTerbaru