Bandung (buseronline.com) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mendorong pelaku industri kecil menengah (IKM) lokal memperluas pasar ekspor melalui konsep kolaborasi “Designed in Australia, crafted in Indonesia”. Konsep ini dibahas dalam seminar Indonesia: Sustainable Sourcing Hub For Textile, Apparel, and Beyond di Melbourne, Australia, Kamis.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung, Ronny Ahmad Nurudin, menyampaikan kesiapan IKM Bandung menjadi mitra manufaktur bagi industri kreatif Australia.
“Bandung secara historis merupakan jantung ekosistem tekstil dan garmen Indonesia, dari hulu hingga hilir,” ujar Ronny.
Ia menambahkan, peluang pasar semakin terbuka melalui IA-CEPA, meningkatnya minat terhadap produksi etis, serta kebutuhan order skala kecil berkualitas tinggi.
Keunggulan IKM Bandung mencakup desain, pewarnaan alami, produksi kreatif, hingga pengerjaan small-batch premium untuk pasar internasional.
Pada sesi utama, Duta Besar Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Siswo Pramono, menekankan daya saing Indonesia dalam rantai pasok global.
Ia memaparkan nilai ekspor tekstil Indonesia meningkat dari USD9,1 M pada 2020 menjadi sekitar USD11 M pada 2024. Meski menghadapi tantangan seperti tarif tinggi di Amerika Serikat dan kompetisi produk impor murah, Indonesia tetap unggul melalui infrastruktur industri, tenaga kerja terampil, dan kapasitas produksi besar.
Konsep kolaborasi “Designed in Australia, crafted in Indonesia” digarisbawahi sebagai peluang peningkatan daya saing bersama.
Indonesia menawarkan efisiensi produksi dan pengalaman manufaktur, sementara Australia unggul dalam desain dan orientasi ekspor.
Siswo menambahkan, peningkatan ekspor tekstil Australia dari USD230 juta pada 2020 menjadi hampir USD500 juta pada 2024 menjadi momentum strategis bagi kolaborasi kedua negara.
“Peningkatan ini dapat menjadi titik temu, di mana kedua negara memperkuat daya saing bersama, bukan saling berkompetisi,” ujarnya.
Seminar juga menghadirkan buyer Australia, Ahmad Roesdy, yang menilai Indonesia sebagai mitra strategis untuk membangun rantai pasok yang etis dan inovatif.
“Kami melihat Indonesia bukan hanya pemasok, tetapi mitra strategis untuk membangun rantai pasok yang etis dan inovatif,” kata Ahmad.
Kesimpulannya, kolaborasi Indonesia–Australia menjadi langkah strategis untuk membangun rantai pasok tekstil yang kompetitif, berorientasi ekspor, dan berkelanjutan.
Kota Bandung diposisikan sebagai motor utama melalui kekuatan industri kreatif lokal yang siap menembus pasar global. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar