Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas makroekonomi serta memperkuat iklim investasi yang kompetitif di hadapan para pelaku usaha dan investor Amerika Serikat.
Penegasan tersebut disampaikan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono pada The 13th US-Indonesia Investment Summit 2025 yang digelar oleh Kamar Dagang Amerika Serikat (AmCham) di Jakarta, Senin.
Dalam forum internasional tersebut, Wamenkeu Thomas menyatakan bahwa Indonesia bertekad menjadi mitra strategis dan tepercaya bagi investor global, terutama di tengah dinamika ekonomi dunia.
Ia menyoroti stabilitas makro ekonomi Indonesia yang tetap terjaga, tercermin dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai 5,04 persen pada triwulan ketiga, dengan target jangka menengah menuju 8 persen.
“Stabilitas ini didukung oleh surplus perdagangan yang terus berlanjut, penguatan kepercayaan pasar yang terlihat dari rekor tertinggi indeks saham, serta penurunan yield Surat Berharga Negara,” ujarnya.
Di sisi fiskal, pemerintah memastikan disiplin anggaran tetap terjaga dengan menjaga defisit di bawah batas maksimal 3 persen PDB. Belanja negara diarahkan pada sektor prioritas seperti infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Wamenkeu Thomas menegaskan bahwa arah kebijakan fiskal pemerintah berpijak pada keseimbangan antara percepatan pembangunan dan perlindungan sosial bagi masyarakat.
“Arah kebijakan kami jelas: kami berupaya mengeksekusi prioritas strategis pemerintahan sekaligus menjaga program-program sosial dan ketahanan ekonomi,” tegasnya.
Menurut Thomas, pemerintah sadar bahwa kolaborasi erat dengan sektor swasta — baik domestik maupun internasional — merupakan kunci dalam merealisasikan transformasi ekonomi Indonesia.
Pemerintah menyoroti berbagai agenda transformasi ekonomi, mulai dari hilirisasi mineral, pengembangan energi terbarukan, perluasan ekonomi digital seperti pembangunan pusat data dan pemanfaatan kecerdasan artifisial, hingga pengembangan manufaktur bernilai tambah tinggi. Semua sektor tersebut dipandang sebagai area strategis yang membuka peluang besar bagi investor global.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat tata kelola dan ekosistem kebijakan melalui harmonisasi regulasi, reformasi perpajakan, peningkatan kepatuhan, serta digitalisasi proses anggaran dan layanan publik.
“Pemerintah juga mendorong pemanfaatan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU/PPP), pembiayaan inovatif, serta pembentukan Satgas Debottlenecking untuk mengurai hambatan-hambatan struktural investasi,” tambahnya.
Dengan perpaduan antara disiplin makro, reformasi struktural, serta perbaikan iklim usaha, Indonesia menegaskan kesiapannya menjadi mitra investasi yang transparan, kompetitif, dan berorientasi jangka panjang bagi investor internasional.
Forum investasi antara Indonesia dan Amerika Serikat ini diharapkan semakin menguatkan kerja sama ekonomi, meningkatkan aliran modal, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar