Jakarta (buseronline.com) - Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 disusun untuk memperkuat pembangunan nasional dan mendukung program prioritas pemerintah. Postur RAPBN 2026 dipaparkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Menurut Menkeu, pendapatan negara diproyeksikan mencapai Rp3.147,7 T, tumbuh 9,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penerimaan pajak dan optimalisasi penerimaan kepabeanan serta cukai, meski PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) mengalami penurunan.
“Untuk penerimaan pajak Rp2.357,7 T itu artinya harus tumbuh 13,5 persen. Itu cukup tinggi dan ambisius,” ujar Menkeu.
Rincian penerimaan lain mencakup:
Kepabeanan dan cukai: Rp334,3 T, naik 7,7 persen.
PNBP: Rp455 T, turun 4,7 persen, terutama karena tidak lagi diperolehnya dividen BUMN.
Sementara itu, belanja negara ditetapkan Rp3.786,5 T, naik 7,3 persen dari outlook 2025. Alokasi terbesar diarahkan untuk mendukung delapan agenda prioritas pemerintah, yaitu: ketahanan pangan, energi, pendidikan bermutu, kesehatan berkualitas, pembangunan desa dan koperasi, pertahanan semesta, serta percepatan investasi dan perdagangan global.
Rinciannya, belanja kementerian/lembaga (KL) naik 17,5 persen menjadi Rp1.498,3 T, sedangkan belanja non-KL mencapai Rp1.638,2 T, meningkat 18 persen.
Menkeu menegaskan semua program prioritas Presiden sudah tercantum di dalam APBN, kecuali beberapa program yang dijalankan secara terpisah oleh Danantara.
Di sisi pembiayaan, defisit APBN diperkirakan sebesar Rp638,8 T atau 3,5 persen dari PDB, lebih rendah dibandingkan defisit tahun 2025. Defisit primer juga dirancang semakin mendekati nol, dengan angka Rp39,4 T pada 2026.
“Kita akan terus menjaga agar APBN tetap bisa sehat,” pungkas Menkeu.
RAPBN 2026 dirancang untuk menjadi instrumen fiskal yang tidak hanya menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga memperkuat program pembangunan strategis yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar