Selasa, 07 April 2026

Menkeu Pastikan SSK Indonesia Triwulan II 2025 Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global

Dirgahayu Ginting - Selasa, 29 Juli 2025 10:21 WIB
Menkeu Pastikan SSK Indonesia Triwulan II 2025 Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati memberikan keterangan pers usai Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (28/7/2025). (Dok/Kemenkeu)
Jakarta (buseronline.com) - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Indonesia pada Triwulan II-2025 tetap terjaga, meskipun ketidakpastian global masih tinggi. Hal ini diungkapkannya dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang digelar di Jakarta, Senin.

Menurut Menkeu, sejumlah faktor eksternal menjadi sumber utama ketidakpastian, mulai dari negosiasi tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) hingga meningkatnya ketegangan geopolitik dan militer global. Kondisi ini mendorong KSSK untuk terus bersikap waspada dan memperkuat koordinasi lintas sektor.

“Kami dari KSSK terus memperkuat sinergi dan koordinasi kebijakan antar-lembaga, mulai dari kebijakan fiskal di Kementerian Keuangan, kebijakan moneter dan makroprudensial oleh Bank Indonesia, pengawasan sektor keuangan oleh OJK, hingga peran LPS dalam menjaga stabilitas sistem keuangan,” ujar Menkeu.

Pada April 2025, Pemerintah AS menerapkan kebijakan tarif resiprokal yang dibalas oleh Tiongkok, memicu ketegangan perdagangan internasional. Situasi semakin diperparah oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah pada Juni 2025, yang berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global, termasuk di AS, Eropa, dan Jepang.

Ekonomi Tiongkok tercatat tumbuh 5,2 persen (yoy) pada Triwulan II-2025, lebih rendah dibanding Triwulan I yang mencapai 5,4 persen, akibat menurunnya ekspor ke AS. Di sisi lain, India mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat karena ditopang oleh peningkatan investasi. Namun, negara-negara berkembang lainnya mengalami tekanan akibat penurunan ekspor dan melemahnya perdagangan internasional.

Sri Mulyani juga mengungkapkan terjadi pergeseran aliran modal global dari AS ke aset yang dinilai lebih aman, seperti emas dan instrumen keuangan di Eropa serta Jepang. Sebaliknya, arus modal ke pasar negara berkembang (emerging markets) menyebabkan pelemahan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Dengan situasi tersebut, Bank Dunia dalam laporan Juni 2025 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,9 persen, turun dari estimasi sebelumnya sebesar 3,2 persen. Lembaga lain seperti OECD juga merevisi proyeksinya dari 3,1 persen menjadi 2,9 persen.

Kendati lingkungan global dipenuhi ketidakpastian, Menkeu menegaskan bahwa ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Ia menyebut konsumsi rumah tangga, daya beli masyarakat, dan aktivitas dunia usaha masih berada dalam zona positif, didukung oleh peran strategis APBN yang menjalankan fungsi countercyclical dan mendukung distribusi ekonomi yang lebih adil.

“Ini adalah lingkungan yang kami amati dan waspadai. KSSK optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II akan tetap terjaga,” tegasnya.

Melalui koordinasi yang solid antaranggota KSSK—yakni Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan—pemerintah berupaya memastikan bahwa sistem keuangan nasional tetap stabil sekaligus mendorong keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru