Selasa, 07 April 2026

Kinerja APBN Agustus 2024 On-Track, Ekonomi Stabil

Dirgahayu Ginting - Rabu, 25 September 2024 10:16 WIB
Kinerja APBN Agustus 2024 On-Track, Ekonomi Stabil
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTa di Aula Mezzanine Kompleks Kementerian Keuangan Jakarta, Senin (23/9/2024). (Dok/Humas Kemenkeu)
Jakarta (buseronline.com) - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia hingga akhir Agustus 2024 menunjukkan hasil yang positif dan on track sesuai dengan target dalam RUU APBN 2024.

Dalam konferensi pers APBN KiTa yang diselenggarakan Senin, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa pendapatan negara telah mencapai Rp1.777 triliun, setara dengan 63,4% dari target yang ditetapkan. Meskipun terjadi kontraksi sebesar 2,5% year on year, angka ini lebih baik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Sri Mulyani menjelaskan, “Kami berharap kontraksi pendapatan negara ini bisa terus ditekan hingga akhir tahun untuk mencapai target yang diinginkan.” Sementara itu, belanja negara telah mencapai Rp1.930,7 triliun, atau 58,1% dari total pagu belanja tahun ini, dengan pertumbuhan yang kuat sebesar 15,3% year on year. Pertumbuhan belanja yang signifikan ini didorong oleh kebutuhan untuk pemilu dan pengeluaran terkait bantuan sosial akibat dampak El Nino.

Defisit APBN hingga akhir Agustus tercatat sebesar Rp153,7 triliun, atau 0,68% dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang masih sesuai dengan RUU APBN 2024. Keseimbangan primer juga menunjukkan surplus yang memuaskan sebesar Rp161,8 triliun.

Dalam konteks yang lebih luas, Sri Mulyani menegaskan pentingnya APBN sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi, melindungi masyarakat, dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan di tengah tantangan global. Inflasi terpantau stabil di 2,12% year on year, dengan neraca perdagangan yang terus mencatat surplus, yakni ekspor mencapai 23,6 miliar USD dan impor 20,7 miliar USD.

Menteri Keuangan juga mencatat bahwa indikator konsumsi rumah tangga menunjukkan pertumbuhan positif, dengan indeks kepercayaan konsumen berada di level tinggi 124,4. Namun, dia memberikan peringatan mengenai Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia yang mulai memasuki zona kontraksi, yang perlu diwaspadai.

“Kami berharap pertumbuhan impor yang mencapai 9% dapat mendorong kembali kegiatan manufaktur, sekaligus memperbaiki kinerja ekspor,” ujar Sri Mulyani.

Dengan hasil ini, pemerintah terus berkomitmen untuk mengoptimalkan APBN sebagai alat penting dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan menjaga pertumbuhan ekonomi domestik. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru